Berjalan dari Dalam Hati

2013/08/27

Aziz and the Cockroaches



Aziz and the Cockroaches.

Kisah ini bermula waktu kemarin, hari Senin, gue menikmati hari pertama kembalinya gue ke perantauan. Gue yang sudah kangen berat dengan kosan, iseng untuk beres-beres. Kenapa harus ‘iseng’? Karena kamar cowok itu emang udah kodratnya buat jarang rapi. Agak-agak berantakan gitu deh, biar macho.

Sewaktu lagi beres-beres, gue sadar kalo shampoo habis. Gue tinggal pekerjaan beres-beres itu sebentar, buat ngacir ke supermarket terdekat. Nah, waktu lagi cari-cari cewek sampo inilah, gue nggak sengaja ngelihat sebuah pembasmi serangga. Karena awalnya gue penasaran gimana rasa kopi kalo dicampur tu pembasmi serangga, gue akhirnya beli.

Singkat cerita, gue kembali menuju kost dengan membawa banyak belanjaan. Iya, awalnya cuma pengin beli sampo, malah jadi beil pembasmi serangga, sabun, cemilan, sampai mbak-mbak kasir yang menawan. Gue pun lanjut beres-beres kamar setelah ngembaliin mbak-mbak kasir itu ke tempat semula.

Di sinilah semuanya berawal. “Ahhhhhh!” teriak gue, udah kayak nggak lulus UAN. Ya, sesuatu yang sebenarnya nggak berbisa ataupun menyebabkan rabies, tiba-tiba jatuh di telapak tangan gue. Sesuatu itu adalah… ini….


Bukan! Maksud gue, ini….


*Yang nggak kuat, silahkan menyingkir*

Gue panik dan tanpa sengaja mengayunkan tangan hingga serangga kecil nan lemah itu terhempas ke lantai dan seketika tewas. Maaf, Nak, bukan maksudku menyakitimu.



Akhirnya gue berpikir, ‘Kenapa bisa ada kecoa? Padahal kan, kost gue bebas dari beginian. Apa karena gue tinggal  pergi lebih sebulan, lalu tiba-tiba bapak kost memberikan kamar ini untuk keluarga kecoa?’ Gue galau. Gue kesal kenapa bapak kost nggak konfirmasi dulu ke gue.

Lambat laun, gue menemukan beberapa kecoa lagi. Oh yeah! Gue jadi kepikiran buat menggunakan pembasi serangga yang gue beli tadi. Memang sudah rejeki gue, untuk membasmi mereka. Gue pun mulai berperang.


Ini hasil pertama.

Setelah galau, gue ngetwit tentang keberanian gue membunuh hewan imut itu. Hingga akhirnya, salah satu temen gue bilang kayak gini,




Gue pun penasaran. Dan dengan rasa penasaran plus otak dangkal, gue pun melakukan apa yang Abeck katakan dan lihat, seberapa banyak yang gue dapat.



Gue akhirnya kewalahan juga. Habisnya mau gimana lagi, kecoa-kecoa itu jago banget terbang-terbang gagal kayak ayam sakit jiwa. Sedangkan gue? Gue hanyalah manusia biasa yang dibekali sebatang sapu dan satu kaleng pembasmi serangga. Walaupun gue menang, gue sempat ngos-ngosan juga.


Tiba-tiba ada bunyi yang mirip dengan bunyi yang terjadi saat jari telunjuk sedang menggali-gali lubang hidung. “Kresek… Kresek…” Bunyi apa itu? Gue mencari sumber suaranya. Siapa tahu itu adalah mbak-mbak kasir supermarket tadi yang lagi sembunyi di belakang lemari.


Bunyi itu kedengaran dari sini.


Gue penasaran. Akhirnya gue masukin lidah jari gue ke dalam lubang di sound system itu. Tau apa yang terjadi? GUE MAU NANGIS!

Ya, ternyata isinya kecoa semua. Mereka menggeliat di tangan gue dengan indahnya. Gue yang khilaf pun kembali mengayun-ayunkan tangan hingga mereka bertebaran di lantai. Gue semprot pakai pembasi serangga dan segera gue akhiri dengan pukulan sapu. Suer, kalau lo liat gue pas adegan itu, martabat jenggot gue bakal turun drastis karena gue mirip banget sama member Telletubies yang warnanya hijau, tapi lagi ngondek.

Gue nggak habis pikir, ternyata kemajuan tekhnologi juga berimbas ke negeri kecoa. Terbukti, beberapa ekor dari mereka kelihatan betah banget tinggal di sound system di kosan gue. Setelah gue teliti, tetnyata di dalam sound system itu ada kosan juga. Dasar kecoak. Kecil-kecil udah jago bisnis.


Rusuh!


Bukan promosi


Jenazah disemayamkan sembari menunggu keluarga korban



Akhirnya perang pun selesai.

Gue sebenarnya nggak bisa juga menyalahkan para kecoa ini. Mereka makhluk yang lemah dan imut sama seperti gue. Sebenarnya mereka nggak gigit. Mereka juga nggak bisa naik motor sambil ngerokok kayak para ababil. Tapi, gaya jalan mereka itu loh, yang bikin emosi. Geli-geli gimana gitu. Makanya nggak heran kalo spesies kecoa mungkin akan lebih cepat punah daripada koruptor.


Ziz? Kosan lo jorok banget ya, sampe bisa banyak kecoa?

Sorry, bukannya pamer. Tapi kosan gue itu ibarat Istana Windsor bagi anak kuliahan yang merantau ke Samarinda. Ini cuma buat ngilangin prasangka buruk kalian aja ya, kalau kamar gue mungkin kayak gubuk yang kebakaran, trus abunya dibuat jadi kos-kosan. Kan tadi udah gue bilang, kalau gue tinggalin kamar ini sebulan lebih. Mungkin itu alasannya.





Setelah ditelaah, gue sadar, mungkin ini penyebabnya.



Ya, belakang kamar gue adalah rawa-rawa tempat prostitusi kodok, kecoa, dan nyamuk. Nggak heran, kalau kamar ini kosong satu bulan, ada aja hewan-hewan menggelikan yang masuk ke kamar lewat celah-celah kecil.

Nah… terakhir, pesan gue adalah : Saat mencari kost, jangan cuma perhatikan isi kamarnya. Perhatikan juga lingkungan sekitar. Kedua, sehabis kecoanya dibasmi, jangan langsung dibuang. Siapa tau bisa berguna di akhir bulan.




Salam Ogi.

Aziz Ramlie Adam.



18 comments:

  1. Mending jangan diusir kecoanya, mereka bikin kos kosan kan? tarik pajak bulanan aja ke ibu kosnya, lumayan penghasilan tambahan buat anak kos.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalahnya, yang ngekost disitu ya kecoa juga =,=

      Delete
    2. makanya, tarik pajak dari ibu kosnya kecoa... =D

      Delete
  2. Kak Aziz bisa masuk kategori one man army.
    Tapi boleh juga nih buat dicoba kalau nanti balik ke rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hati-hati begitu pulang, rumah lo udah dikuasain kecoak :V

      Delete
  3. Replies
    1. Di Sempaja, jalan rapak binuang deket dealer Daihatsu :"

      Delete
  4. Glek! Liat foto langsung balik kanan bubar jalaaaaaan~

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. Mereka numpang tanpa bayar serupiah pun. Maafkan kekhilafan gue -,-

      Delete
  6. Aziz si pembasmi kecoa... ati - ati teman, sahabat, saudara mereka bales dendam loh ziz.. siapkan alat perang lo karena mereka akan muncul lebih banyak lagi. BERSIAPLAH....!!!

    ReplyDelete
  7. baru liat gue korban kecoanya segitu banyak :3

    ReplyDelete
  8. wah ziz lw punya utang ya ke kecoanya..
    sampai-sampai nyita kos-kosan lu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue nolak lamaran mereka buat ngambil gue jadi menantu. Emang gue cowok apaan...?

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)