Ini Ximin

Sunday, October 20, 2013

New [Diare] Dairy




Sepanjang mata memandang, terlihat banyak sekali orang yang berlalu-lalang. Samar-samar terdengar bunyi mesin pesawat yang dengan syahdunya melintasi telinga. Sesekali terdengar beberapa pemberitahuan dari speaker yang berada di beberapa titik. Seorang pemuda ganteng dan unyu terlihat sedang sibuk membawa tasnya sembari menggenggam tiket di tangan kiri. Sesekali ia melihat tiket dan mencocokkan kode penerbangannya.

Pemuda cakep itu duduk tepat di depan Gate B1, Bandara Sepinggan, Balikpapan. Kode penerbangan JT 765 menuju Jakarta mencadi acuannya untuk menunggu di sana. Ia terlihat gelisah. Ternyata, di sebelahnya ada Mas-Mas genit yang menggodanya. Ia pindah tempat duduk.

Pemuda cakep ini bernama Adam. Dengan wajah sotoy dan selalu merasa keren, ia nekat pergi sendirian ke Ibukota Indonesia tercinta, Jakarta. Modal keberangkatannya hanyalah beberapa kolor. Tidak lupa ia juga mempersiapkan diri agar tidak histeris sewaktu melihat rel kereta api. Ya, ini adalah kali pertama Adam pergi keluar Kalimantan, SENDIRIAN. Sewaktu kecil memang pernah. Tapi berhubung itu masih bareng orangtua, dan Adam sendiri tidak bisa mengingat siapa nama pramugari-nya yang paling cantik, maka itu tidak masuk hitungan.

Waktu menunjukkan pukul 16:45 WITA. Pesawat Shenyang J-11 telah siap memberangkatkan Adam (Oke, ini bohong). Ia memasuki pesawat lain, tujuan Jakarta. Adam berharap, semoga ia tidak salah masuk pesawat dan terbawa ke Filipina untuk dinner bareng Miss World 2013. Untungnya semua hanya ada di dalam khayalan bodoh Adam saja. Ia memasuki pesawat yang benar.

Selama penerbangan berlangsung, Adam seringkali merasa deg-degan karena ada seorang wanita duduk di sebelah kanannya. Bukan karena cantiknya wanita itu, tapi karena ukuran badannya yang memang mirip ikan paus hamil tiga bulan. Besar sekali. Kebetulan Adam duduk paling kiri tepat di dekat jendela. Karena lengan wanita ikan paus begitu besar, dan ia sedang tertidur, maka tak jarang kepalanya tersandar di bahu Adam dan tangannya sesekali menindih paha Adam. Kasihan Adam. Malang sekali nasibnya.

Daripada terdesak, Adam merenggangkan sabuk pengaman dan agak bergeser ke kiri untuk menjauhi wanita itu. Wajahnya ditempelkan di jendela seperti orang udik yang baru pertama kali melihat awan. Gara-gara itu, Pramugari cantik yang kebetulan lewat, sempat terdiam dan melirik dengan hina. Adam yakin, Pramugari itu sedang berkata dalam hati, “Ih… Ganteng sih. Tapi norak”. Adam sedih. Adam tidak jadi mendapatkan nomor hape Pramugari cantik. Semua karena si wanita ikan paus!


Sesekali Adam dihantui oleh beberapa pikiran aneh, seperti:

“Gila… Ini pesawatnya kalo jatuh ke laut, gimana, ya?”

“Anjir! Gue lupa catet nomer hape Superman!”

“Haduhh… SPBU-nya mana ini? Kalo kehebisan bahan bakar, ngisinya gimana?!!”

“Woy!! Alien kampret!! Minggir!! UFO lo ngalangin jalan!!”

Dan lain sebagainya...


Singkat cerita, akhirnya Adam mendarat dengan selamat. Ia mengecek ke arah luar jendela, dan tetap, tidak ada SPBU. Wanita ikan paus di sebelahnya telah bangun dari tidur pulasnya. Wajahnya kemerahan, mirip kepiting rebus yang naik pesawat. Ia menatap Adam. Mungkin dikira suaminya.

Setelah mengantri untuk turun yang sempat diwarnai aksi tikam-bacok, akhirnya Adam memasuki gerbang kedatangan dan menuju tempat pengambilan bagasi. Setelah itu, ia keluar dan sempat merasa ganteng sendiri waktu direbutin banyak orang. Iya, sopir taksi. Mereka berebut membawa Adam dengan buaian mesra seperti, “Mas, mau kemana? Ayok ikut saya. Kebetulan istri saya lagi gak di rumah. Xixixixi”. Hina…

Usai pertengkaran sopir taksi yang sibuk memperebutkan Adam (ceilah... direbutin Om-om sopir taksi), akhirnya Adam bisa menghindar dari mereka. Ia pun berhasil menemukan seorang sahabat lama yang sedang menunggu sambil memegang kertas karton besar bertuliskan sesuatu. Bukan, bukan nama Adam yang tertulis di sana. Tulisannya, “Turunkan harga Nasi Padang, bila yang menjual bukan orang Padang”. Entah apa maksudnya.

“Yoo!!” seru Adam kepada Rio, sahabat lamanya di SMP yang sudah lama menetap di Jakarta.

“Lo siapa?”

*Banting sopir taksi*

“Aziz??!”

“Iyahhh… ini gueehhh….”

Adegan berpelukan sudah tidak terhindari. Mesra. Seperti pasangan LDR yang 25 tahun tidak bertemu. Mereka membicarakan beberapa hal bodoh sebentar, seperti alasan kenapa plat nomor kendaraan di sini kebanyakan berawal oleh huruf B, lalu akhirnya mencari taksi. Setelah dapat dan memasuki taksi, Rio hanya menyebutkan “Taman Kota” dan si sopir pun berangkat.

Adam masih tercengang selama di perjalanan. Bukan karena macet dan indahnya Kota Jakarta, tapi karena selama perjalanan harus bayar di loket jalan tol sebanyak 3 kali. Adam merasa di-tolol-tololi setiap hendak memasuki jalan tol. Memang dasar si tol ini. Bandel. Tol.

Akhirnya, setelah sempat tertidur di taksi, Adam bangun karena dibangunin (kalau ditidurin, lain lagi ceritanya). “Sudah sampe,” kata Rio. Mereka pun turun dari taksi dan sempat mencret sebentar waktu bayar taksi 75 ribu. Setelah turun, mereka berjalan kaki sebentar menuju rumah Rio. Di sinilah, sebuah kericuhan terjadi.


“Anjir! Rel kereta!!” seru Adam.

“…….”

“Yo, ini rel kereta! Asli! Mirip kayak di tipi-tipi!” seru Adam lagi, seperti manusia purbakala yang dikirim dari masa lalu untuk meneliti rel kereta api.

“Iya… Udah. Mending kita--”

“Foto, ah!”

“……”


Entah berapa pasang mata yang menatap pemuda ganteng itu dengan sinis. Hina sekali. Kekaguman Adam yang tanpa alasan, terhadap rel kereta, sepertinya akan cepat menjadi buah bibir kalangan masyarakat Jakarta. Insyaf, Dam… insyaf…

Akhirnya malam itu ditutup dengan kelakuan Adam yang nongkrong di depan teras rumah Rio, sambil ngopi, dan menikmati suara kereta api yang terdengar tiap beberapa puluh menit sekali dari kejauhan. Sebuah kisah baru pun dimulai. Hidup baru di awal bulan yang baru, telah menanti jalan hidup seorang pemuda ganteng. (Catatan: Kalau kalian melihat seorang pemuda ganteng sedang mengelus-elus rel kereta api, jangan ditegur. Biarkan saja dia menikmati dunianya sendiri).


***

Penulis,


Aziz Ramlie ‘Adam’

6 comments:

  1. Menurut hasil penelitian temen gue (yang sudah pasti dilaksanakan secara ambur-adul)... Jika seseorang tidur di rel kereta ketika kereta akan melintas, maka dia akan mendapat tumpangan gratis... Ke dunia lain.

    [Jangan dicoba, percobaan ini hanya dilakukan oleh proffessional]

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)