Ini Ximin

Monday, June 16, 2014

Fanfict “Dear Rona“ Part 1; Dear Rona

Dear Rona adalah serial fanfict terbaru dari blog Aziz Ramlie Adam yang juga masih berperan sebagai penulisnya. Setelah membuat For Stella yang sempat mengundang nafsu para penjelajah dunia maya (dan ceritanya pun belum berakhir sampai sekarang), Aziz memutuskan untuk membuat serial terbaru ini (lagi-lagi) dikarenakan ia telah menobatkan diri sebagai salah satu fans dari Rona JKT48.


Semoga kembali menjadi bacaan yang menghibur dan selamat menikmati!



DEAR RONA







Dear Rona,

Entah darimana aku harus memulai tulisan ini. Satu-satunya yang ingin aku ungkapkan, hanya perasaan yang ingin bertemu. Kangen? Bisa jadi. Terbayang wajah kamu, ya selalu. Tapi entah apa yang membuat aku bisa merasakan itu semua. Seperti ada satu perasaan lagi yang menjadi akar dari semuanya. Seolah rasa yang tidak karuan itu hanya berupa akibat dari satu rasa yang mengebu-gebu ini. Tidak bisa aku jabarkan... tidak bisa pula untuk aku mengambil tindakan.

Saat ini aku lagi-lagi mengingat pertemuan pertama kita dulu. Tiga bulan yang lalu. Walaupun kita hanya bertemu dalam waktu tak lebih dari 3 hari, aku masih ingat pakaianmu. Aku masih sesekali tersenyum saat seolah mendengar kembali suara lembutmu. Gayamu yang kadang sok keren itu, membuat aku bertanya-tanya, “Apakah kamu hanya sementara?” Sesingkat inikah? Semudah inikah untuk menghilang?”

Kamu lagi apa di sana? Makan? Hangout dengan teman-teman? Atau sekedar menulis diary seperti yang sedang aku lakukan saat ini? Wajar jika kamu melakukan yang terakhir itu, karena aku sendiri melakukan ini sebenarnya hanya karena terlalu rindu dengan sosokmu yang bahkan mulai samar-samar menghilang.

Malam ini, untuk kesekian kalinya, aku menulis lagi. Berharap ini adalah tulisan ajaib dimana ketika aku selesai menulis, maka tulisan ini akan langsung bisa kamu dengar, bisa kamu rasakan. Selamat malam kamu yang tidak pernah aku ketahui lagi keberadaannya. Selamat malam kamu yang pernah singgah walaupun hanya sementara. Selamat malam, Rona...



Gue menghembuskan nafas terakhir. Bukan. Maksud gue, menghembuskan nafas lega karena lagi-lagi perasaan itu datang. Perasaan yang seperti menahan kentut dan pipis secara bersamaan. Perasaan yang harus diungkapkan walau bagaimanapun caranya.

Gue save lagi tulisan itu di folder yang sama dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Tulisan dengan tujuan yang sama. Menumpuk dan terus menumpuk seperti gumpalan upil di dalam hidung dinosaurus. Maaf, perumpamaannya mungkin terlalu seram.

Kebiasaan menulis diary sok imut ini gue lakukan sejak satu minggu setelah pertemuan gue dengan seorang gadis lucu bernama Rona. Gue lupa nama panjangnya. Toh, ini bukan sekuel lawakan nama panjang seperti ini: “Namanya Rona. Nama panjangnya... Ronaaaa”

Basi.

Oh iya, nama gue sendiri adalah Adam. Terlalu ganteng memang untuk sosok yang menyerupai ulat bulu kecemplung bensin seperti gue. Tapi ya nama itu anugerah dan doa terindah dari orangtua loh. Walau berat, harus dipikul dan dipertanggung jawabkan layaknya seorang suami yang wajib menafkahi satu istri dan tiga anakanya. Maaf, ngelantur lagi.

Gue menghempaskan diri ke kasur, dan terpantul-pantul seperti tidur di atas jelly. Saat sudah tenang, gue coba memejamkan mata. Bukan mau sok keren seperti di FTV romantis yang biasanya langsung dilanjutkan dengan, “Ih... kok gue jadi mikirin dia, ya? Apa gue suka? Ah... ga mungkin!” tapi gue sedang mencoba untuk mengingat kembali bagian-bagian yang hilang saat pertemuan pertama gue dengan Rona. Dan setelah gue ingat semuanya, maka semua berjalan di kepala layaknya sebuah film pendek....



Di awal tahun itu, gue sedang liburan semester. Untuk pertama kalinya merasakan liburan semester sebagai seorang mahasiswa memang terasa berbeda. Apalagi jika sadar kalau 1 tahun yang lalu gue menghabiskan awal tahun sebagai anak kelas 3 SMA yang sedang gencar-gencarnya persiapan untuk UN. Kata temen-temen gue dulu, itu namanya cenat-cenut berkapasitas tinggi.

Menghabiskan 1 semester penuh suka duka seperti deadline tugas di tengah malam, tidak pakai celana dalam karena masih basah di jemuran, nongkrong dengan nenek-nenek perokok, sampai berantem dengan anak SD fans CJR, sudah gue rasakan semuanya. Kelam memang. Karena itulah, gue memutuskan untuk melakukan liburan terkeren saat ini. Tur naik motor ke rumah tante gue!

Bagi beberapa pria, motor merupakan jiwa mereka. Modal untuk jadi ganteng ya salah satunya dengan punya motor tangguh yang macho-nya ngalahin jari kaki Agung Hercules. Dan bagi gue sendiri, motor adalah kendaraan beroda dua yang memudahkan kita pergi kemana saja dengan resiko harus berteduh atau pakai mantel air jika sedang turun hujan. Jenius!

Waktu itu hari Rabu. Rencananya, gue akan menghabiskan waktu hingga hari Senin minggu berikutnya. Ini akan jadi liburan terkeren gue sepanjang sejarah kartun Shincan di stasiun tivi swasta. Dengan berbekal peta yang gue jadikan bungkus gorengan, akhirnya gue memulai petualangan ini sendirian...

Selama perjalanan, gue melewati beberapa rintangan yang cukup berarti. Seperti kakek-kakek yang ingin menyebrang jalan, tiba-tiba ingin pipis, sampai tergoda oleh mbak-mbak ber-tanktop pink yang jualan minuman dingin. Namun tidak ada yang lebih keras menjadi penghalang selain ‘Mobil Pengangkut Ayam’.

Perlu diketahui, indera penciuman manusia tidak setajam anjing pelacak dan tidak pula searogan psikopat penikmat bau ketek tante-tante kaya raya. Namun jika telah berhadapan dengan mobil pengangkut ayam, itu jadi cerita non-fiksi yang berbeda. Menusuk sampai ubun-ubun kantong kemih! Padahal waktu itu, gue pakai masker keluaran terbaru anti debu dan kotoran bayi baru lahir. Tapi ini tantangan! Wangi semerbak yang dihasilkan oleh udara yang tercemar bau ayam benar-benar mampu melumpuhkan penciuman seorang pria ganteng seperti gue. Seketika.. pandangan gue memudar.

Tiga jam perjalanan telah gue tempuh. Setelah sempat berlinang airmata karena mobil pengangkut ayam, akhirnya gue sampai juga di sebuah Gapura Selamat Datang dimana itu berarti gue telah sampai di kota tempat tinggal tante gue. Gue terharu dan segera pergi ke SPBU terdekat untuk isi bahan bakar sekalian menanyakan arah menuju alamat rumah tante gue.


Sesampainya di sana...

Gue seperti seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Tante gue menyambut dengan kecupan maut di jidat dan persembahan makan siang. Lama gue nggak ke sini semenjak Telletubies masih sering di tayangkan sebagai tontonan wajib anak-anak.  Tidak banyak yang berubah, kecuali rambut om gue yang mulai memutih. Teringat pula kalau dulu sewaktu SD, gue pernah tinggal di sini, tepat di sebelah rumah tante gue ini. Rumahnya masih ada dan ditinggali oleh penghuni baru yang membelinya dulu.

Di sini ada tiga sepupu gue yang merupakan anak dari Tante dan Om gue. Dimulai dari Dinda, yang paling kecil berumur sekitar 4 tahun. Merupakan sosok hyperaktif yang suka berantem dengan Bobi, anak yang katanya penguasa gang sebelah. Yang selanjutnya ada Fajar, masih kelas 3 SMP dan belum pernah terjerat kasus narkoba. Lalu anak pertama, yang paling tua, ada Kak Indah. Dia dua tahun lebih tua dari gue dan kabarnya sedang menjalin cinta dengan salah satu konglomerat yang katanya punya tanaman pohon duit di belakang rumah.

Pemandangan di sana tidak jauh berbeda dari dulu gue di sini. Masih dengan laut yang sama karena ini di daerah pesisir. Gue merebahkan diri di kasur sepupu gue, Fajar, dan berdoa semoga liburan kali ini akan berbeda dari liburan-liburan sebelumnya. Tak berapa lama kemudian, tidak sepanjang waktu kentutnya Bobby Lashley, gue akhirnya tertidur pulas...


“Dam.”

Gue membuka mata. Terlihat sosok tante-tante menor dan khas parfum yang siap kondangan.

“Eh, Tante.” Gue lihat jam, “Hah! Jam 9? Gak kerasa nih, ketiduran sampai malam”

“Sembilan pagi lebih tepatnya.” Tante gue lalu membuka jendela dan terpancarlah sinar-sinar kehidupan yang segera membangunkan makhluk pemalas ini.

“Pagi?”

Ya. Gue tertidur sampai hari berikutnya, hari Kamis. Sungguh kebo memang.

“Sarapan ada di meja makan. Tante tau kamu pasti laper banget. Kebetulan ini tante ada mau kondangan. 
Jadi sekalian jaga rumah dulu, ya.”

“Semua ikut pergi, Tante?”

“Hemm... mungkin Indah nggak deh, kayaknya”

“Oh, oke. Thank, Tante.”

Tante gue akhirnya pergi meninggalkan makhluk hina ini disertai senandung tembang tahun 80-an. Gue dengan malasnya pergi ke kamar mandi untuk main badminton. Em, maksud gue untuk sikat gigi, cuci muka dan tugas utama pria di pagi hari: pipis sambil nari poco-poco. Itu ritual gue sejak disunat.

Setelah selesai melakukan pipis sambil poco-poco yang gue namakan ‘P3’, gue keluar kamar mandi dan merasakan ada sesuatu di dalam perut.

Mungkinkah Kyubi dalam perut gue sedang meminta makan?’ dan setelah itu.. mulai muncul adegan Sasuke sedang pakai celana dalam.

Singkat cerita (singkat darimananya??!), akhirnya gue meninggalkan kamar lalu menuruni tangga menuju meja makan. Aroma makanan khas buatan tante, membuat gue semakin bernafsu untuk segera menikahi Cinta Laura. Maksud gue, untuk memakan habis semuanya.

Gue buka tudung saji dengan penuh birahi. Pemandangan paha ayam menjadi obyek utama yang dicerna oleh otak gue. Saat hendak mengambil satu potong, ada yang berteriak.

“Waaa... Maling!”

Gue sukses dilempar dengan centong nasi dan berakhir naas dengan luka lebam akibat pukul-tentang-sikut-tumbuk dari tangan dan kaki pendekar berambut panjang itu.

“Wooooyyy!!! Gila!” Gue pasang kuda-kuda. “Maling?! Maling jemuran emak lu?!”

“Lu ngapain, ha?!”

Gue perhatikan lagi sosok pendekar di depan gue ini. Wanita. Rambutnya panjang dan syukurlah kakinya masih menapak di lantai. Kami berdua berhadapan dengan penuh siaga. Gue memakai kuda-kuda gaya ular lagi pup di toilet mal.

Terdengar suara langkah yang terburu-buru dari arah tangga. Kakak sepupu gue, Indah, dengan dilengkapi persenjataan berupa vacum cleaner, datang dan membentuk kuda-kuda yang lebih aneh dari gue.

“Mana maling?!” Ia menyalakan vacum cleaner dan mengacungkannya seperti pemeran Tomb Raider yang kebelet nikah muda.

Situasi menjadi hening sejenak. Samar-samar terdengar lagu Ridho Roma.


“Itu malingnya, Kak!” seru wanita di depan gue.

“Ha??! Eh cewek melankolis! Lu tu yang siapa?!” gue menjawab dengan tatapan beringas.

“Bentar...” Kak Indah menonaktifkan senjata mematikannya tersebut. “Emm... Adam, itu temen gue, namanya Rona. Hem... Rona, itu Adam, sepupu gue yang lagi numpang liburan.”

Dan semua kembali tentram seperti sekuel bahagia Keluarga Cemara...


“Oooh... gituuu” seru cewek melankolis yang baru gue tau namanya Rona. Dengan polosnya ia mengambil makanan di atas meja seolah lupa kalau beberapa menit sebelumnya hampir terjadi pertumpahan darah di meja makan ini. Kami bertiga pun makan.

Rona adalah salah satu teman Kak Indah yang juga sedang singgah di kota ini. Asalnya dari Pemalang. Karena masih kelas 3 SMA, ia hanya punya waktu 3 minggu untuk liburan semester. Ia datang ke sini karena ada kerabat yang sedang sakit. Dengan niat awal menjenguk, ia yang memang cepat bosan akan suatu hal, iseng-iseng kerja sampingan sebagai seorang SPG saat ada event di salah satu mal. Dan secara kebetulan, Kak Indah juga sedang bekerja di sana. Jadilah mereka akrab dan kebetulan hari ini mampir ke rumah ini.

Pandangan pertama, memang seperti cewek melankolis. Namun setelah diamati ulang, entah kenapa ada sesuatu yang menarik. Gingsul kanan-kiri yang nampak seperti vampire kesasar membuat ia terlihat manis. Rambut panjang tanpa poni membuatnya seperti model iklan shampo yang membuat para gadis yang menonton iklan itu ingin segera membeli produknya secara grosir. Matanya yang sipit dan tajam, membuatnya terlihat sangar seperti keturunan Tionghoa yang terjerumus dalam komplotan mafia Italia.

Perfect! Tipe gue banget.


Selesai dengan acara makan-makan pasca tragedi perang centong nasi, gue kembali ke kamar Fajar. Tak lama kemudian ada suara pintu diketuk.

“Yooo...” gue menjawab seadanya sembari menuju pintu yang sepertinya punya aura hitam. Gue buka pintu perlahan dan tiba-tiba...

TAK!

Sebuah centong nasi mendarat di jidat gue. Rona.

“Lu gila??!!”

“Lu yang gila! Main pergi aja! Cuci piring!!”

“Hahh??!!”


Dan hari itu.. untuk pertama kalinya gue jatuh cinta dengan awal yang aneh...


***
Tunggu kelanjutannya!

8 comments:

  1. "Tragedi centong nasi" Buahahahaha XD
    Manteb nih. Ditunggu kelanjutannya!

    ReplyDelete
  2. Ciyee yg for stellanya gk dilanjutin

    ReplyDelete
  3. Pipis sambil poco-poco
    hebat u bro hahaa
    salam kenal ya

    http://andrianryudo.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. bagus nih fanfict nya, lumayan menarik mas...

    ReplyDelete
  5. misi ya ziz numpang promote blog gua hahaha lagi ikutan lomba nih, ditunggu ya komentar dan supportnya. thanks ziz :p http://banyakmauu.blogspot.co.id

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)