Sebentar lagi satu januari dua ribu lapan belas. Seperti tahun yang sudah-sudah, telah banyak persiapan pergantian tahun dimana-mana. Mulai ditandai dengan diskon toko-toko online, cuci gudang, jual terompet, promo tempat wisata dan harga kamar hotel. Banyak juga jomblo-jomblo yang mulai pepetin lawan jenis dengan jurus andalan semaksimal mungkin biar malam tahun barunya nggak sendirian atau cuma bareng keluarga dan teman-teman satu geng.

Biar ada semacam perayaan tahun baru yang berkualitas dengan pacar baru.


Di sela-sela kehidupan ala-ala Jakartans gue satu bulan terakhir, ada saja hal-hal tidak terduga yang datang menghampiri. Untungnya dari sekian banyak kepedihan, lagi-lagi, ada saja gitu terselip hal yang menggembirakan. Salah satunya waktu gue datang ke acara ini: 





Akhir-akhir ini ada kemalasan. Ada berbagai alasan yang tampaknya sengaja gue buat untuk menghindari ini. Padahal dulunya, semua mengalir saja bahkan tanpa disengaja. Kayak daun jatuh ke aliran sungai. Mau pakai perumpamaan dengan benda sungai yang lebih familiar, takutnya malah terdengar lebih jorok.


(Episode Sebelumnya: Chapter 01)

"Ekskul misteri di sekolah itu hanya beranggotakan tujuh orang. Tujuh Penyihir, kata siswa lainnya. Saat sedang berlangsung kegiatan MOS, salah satu siswi ditemukan tewas di Toilet siswa. Adam dan kawan-kawan tidak menyangka bahwa akan terjadi peristiwa seperti itu di sekolah"


Kematian.

"Perlukah sebuah kematian? Pentingkah perjalananmu menuju kematian itu? Jika kamu dapat melihat tanda-tanda kematian, apa yang akan kamu lakukan?"



Tiga anak muda itu sedang berlari. Tiap langkah kaki disambangi peluh. Mereka mengejar sesuatu. Hal yang mungkin, kelak, dapat mengungkap tabir kematian.

Menyusuri koridor sebuah bangunan tua, mereka bertiga tampak sangat gigih. Berlari tanpa mengenal lelah sejak pertama kali menyusuri bangunan bertingkat tiga itu.


  
Rianti, tanpa sengaja, kau memberiku ruang untuk sejenak memikirkanmu lagi. Masih selalu terpaku menatap wajahmu. Wajah yang digariskan foto enam tahun yang lalu. Kala itu, masa dimana aku masih sangat mengagumimu. Kekaguman yang kubawa hingga sekarang.

Ketertarikanku padamu, Rianti, bermula dari kesederhanaan. Hanya dari pertemuan antara mataku dan mata indahmu. Mata yang tidak akan pernah bisa aku pungkiri keindahannya. Mata yang jauh memberiku tanda tanya ketimbang bahagia. Mata yang membuatku, saat itu, jatuh cinta.