Kematian.

"Perlukah sebuah kematian? Pentingkah perjalananmu menuju kematian itu? Jika kamu dapat melihat tanda-tanda kematian, apa yang akan kamu lakukan?"



Tiga anak muda itu sedang berlari. Tiap langkah kaki disambangi peluh. Mereka mengejar sesuatu. Hal yang mungkin, kelak, dapat mengungkap tabir kematian.

Menyusuri koridor sebuah bangunan tua, mereka bertiga tampak sangat gigih. Berlari tanpa mengenal lelah sejak pertama kali menyusuri bangunan bertingkat tiga itu.


  
Rianti, tanpa sengaja, kau memberiku ruang untuk sejenak memikirkanmu lagi. Masih selalu terpaku menatap wajahmu. Wajah yang digariskan foto enam tahun yang lalu. Kala itu, masa dimana aku masih sangat mengagumimu. Kekaguman yang kubawa hingga sekarang.

Ketertarikanku padamu, Rianti, bermula dari kesederhanaan. Hanya dari pertemuan antara mataku dan mata indahmu. Mata yang tidak akan pernah bisa aku pungkiri keindahannya. Mata yang jauh memberiku tanda tanya ketimbang bahagia. Mata yang membuatku, saat itu, jatuh cinta.