Rianti



  
Rianti, tanpa sengaja, kau memberiku ruang untuk sejenak memikirkanmu lagi. Masih selalu terpaku menatap wajahmu. Wajah yang digariskan foto enam tahun yang lalu. Kala itu, masa dimana aku masih sangat mengagumimu. Kekaguman yang kubawa hingga sekarang.

Ketertarikanku padamu, Rianti, bermula dari kesederhanaan. Hanya dari pertemuan antara mataku dan mata indahmu. Mata yang tidak akan pernah bisa aku pungkiri keindahannya. Mata yang jauh memberiku tanda tanya ketimbang bahagia. Mata yang membuatku, saat itu, jatuh cinta.




Kau hanya perlu maklum padaku, Rianti, akan segala kekagumanku padamu. Dahulu, hal ini adalah biasa pada kehidupan anak SMA, bukan? Berawal dari melirik sampai akhirnya selalu terlihat. Aku menyukai caraku memandangmu.



Asal kau tahu, Rianti, mungkin saat ini aku hanyalah sebuah kehampaan. Aku hanya berteman kekosongan. Namun siapa menyangka, foto enam tahun lalu bisa membangkitkan kenangan. Aku rindu, tiba-tiba, pada suaramu. Bahkan makianmu saat dahulu ada hal yang tidak benar padaku.



Kamu, Rianti, adalah bagian dari masa laluku. Bagian dari kekosonganku di kala itu. Bertahun-tahun mendambakanmu, akhirnya harus kandas termakan waktu. Aku sadar tak mungkin berjodoh denganmu. Aku kalut dalam kelemahan hatiku. Karena dahulu, Rianti, kamulah yang menguatkan aku.



Rianti, saat ini kudapati dirimu penuh dengan cahaya. Aku yakin kamu bahagia dapat bertumbuh di dalamnya. Tempatmu bersandar saat ini, adalah jawaban keresahan hati. Penebus kegundahan jiwamu yang hampir mati. Termasuk pula hal-hal yang tak pantas ku lakukan padamu. Hal yang hanya memberikanmu belenggu.



Mencintaimu.



Seandainya dahulu tak ku katakan, adakah kesempatan di masa sekarang? Seandainya aku tidak dengan yakinnya, merasa kamu mencintaiku juga, apa sekarang kamu akan cinta? Seandainya dahulu dapat kuhancurkan perasaanku dan ku ungkapkan sekarang, apakah kau dapat menerimanya?


Aku tidak pernah ingin menyebut ini sebuah penyesalan. Tidak pula penyelesaian. Yang bisa ku lakukan saat ini hanya menjalani. Menjalani cinta pada mereka, dengan kamu di dalamnya.
Kamu mengajariku untuk tegas. Tegas memilih dan dipilih. Tegas mencintai dan dicintai.


Sampai kini, belum ada inginku melupakan senyum di matamu. Belum terbuang sisa suaramu di kepalaku. Ku nikmati apa yang tersisa darimu, seperti nikmatnya aku mencintaimu dahulu.



Tetaplah ku cintai, Rianti. 


No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)