Berjalan dari Dalam Hati

2017/11/27

Tujuh Kutukan: Chapter 01

Kematian.

"Perlukah sebuah kematian? Pentingkah perjalananmu menuju kematian itu? Jika kamu dapat melihat tanda-tanda kematian, apa yang akan kamu lakukan?"



Tiga anak muda itu sedang berlari. Tiap langkah kaki disambangi peluh. Mereka mengejar sesuatu. Hal yang mungkin, kelak, dapat mengungkap tabir kematian.

Menyusuri koridor sebuah bangunan tua, mereka bertiga tampak sangat gigih. Berlari tanpa mengenal lelah sejak pertama kali menyusuri bangunan bertingkat tiga itu.

"Di depan! Pasti pintu itu!" Teriak seorang pemuda yang lari paling depan.

"Cih! Kita harus sampai lantai paling atas untuk bisa menemukan tempat ini!" Ujar pemuda satu lagi, yang berlari agak di belakang sisi kiri pemuda pertama.

Yang ketiga, berlari di sisi kanan pemuda pertama. Ia seorang wanita muda yang tangguh berambut sepundak. Raut wajahnya seolah tak ingin mengatakan apapun. Hanya sedikit amarah, yang terlihat di sana.

"Dit!" Seru pemuda pertama pada pemuda di kirinya.

Jelas pemuda kedua ini paham. Ia sedikit menarik nafas panjang dan mengambil ancang-ancang penuh. Ia sedikit mempercepat larinya.

BRAKK

Si pemuda kedua menendang pintu yang menghadang laju lari mereka. Gaya tendangan khas pencak silat. Sudah pasti, ia sangat terlatih soal ini.

Mereka segera masuk ke dalam ruangan di balik pintu tersebut. Sebuah ruangan empat kali enam meter yang terdapat beberapa meja dan kursi yang berserakan. Tidak ada lampu. Hanya sinar rembulan malam yang menyusup lewat celah gorden yang melambai. Seseorang tampak di sudut ruangan. Ia sedang menunggu.

Tiga anak muda tadi bersiaga, seolah memberi jarak pada seseorang di dalam ruangan itu. Dapat dipastikan, seseorang itu, wanita. Rambut panjang sepinggangnya melambai tertiup angin malam. Poninya samar menutup wajah.

"Apa hubunganmu dengan benda itu?" Tanya pemuda pertama, Leader dari tiga anak muda tadi.

Wanita itu tidak menjawab. Di sampingnya terdapat sebuah kotak berisikan sesuatu yang diperebutkan. Kotak itu sebesar dus mie instan. Terbuat dari bahan dasar logam perak. Dan 'benda itu', ada di dalamnya. Wanita itu terlihat sangat menjaganya.

"Dam, harus kita rebut paksa," kata si pemuda ahli pencak silat kepada Leadernya.

Dengan sigap mereka bertiga menyerbu wanita berambut panjang itu, untuk memperebutkan kotak. Tiga anak muda itu juga tidak yakin apa isinya sesuai dengan ekspektasi mereka. Harapan terbesar, ada sebuah benda yang dapat memberitahu akan sesuatu. 

Sesuatu yang berhubungan dengan kematian..


***


Delapan bulan yang lalu..

Juni, 2013.

SMA.

Di sekolah ini, semua bermula. Dari sudut tingkat dua, di sebuah ruangan yang bersebelahan dengan gudang. Bahkan, sebagian barang tidak terpakai oleh pihak sekolah, telah dialokasikan ke dalam ruangan tersebut.

Ekskul Misteri. Begitu tulisan yang tertera di pintu. Sebuah ekstrakurikuler yang berdiri lima tahun lalu. Saat ini hanya beranggotakan tujuh siswa. Siswa lain menyebut mereka 'Tujuh Penyihir'.

"Okee.. bentar lagi markas kita bakal jadi gudang", keluh Dea.

Dea adalah perempuan berambut sebahu dan berkacamata. Ia merasa gelisah melihat beberapa tumpukan buku bekas dan dua buah kursi rusak tergeletak di dekat pintu masuk bagian dalam.

"Yaudah.. Lumayan, kalo kita ntar udah tergusur dari ruangan ini, kita bakar aja tu barang barang. Sekalian ruangannya", sambut Didit.

Didit adalah laki laki dengan tubuh ideal. Ia hobi hampir semua olahraga. Terlebih, Ia menyukai seni pencak silat. Ia selalu memakai ikat kepala yang terlihat atletis.

Di samping jendela, yang mengarah langsung ke halaman sekolah, Adam sedang duduk menatap keluar.

"Lo sibuk merhatiin anak baru itu juga? Haha.. laris, ya, dia. Pada diomongin anak-anak OSIS yang nge-MOS". Dhike menyadarkan lamunan Adam.

Dhike adalah perempuan cantik berambut sepundak. Poni pada dahinya tergerai apa adanya. Perawakan sebagai cewek tangguh terlihat dari banyaknya gelang di kedua tangannya. Belum lagi, kalung bermata tengkorak yang dikenakannya.

"Adam bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta kali. Hahaha" celetuk Ratu, seorang perempuan anggun dengan rambut panjangnya. Poninya tertata rapi dan ia memakai anting emas yang menawan. Tidak perlu banyak make up pada wajahnya karena dasarnya ia memang sudah cantik.

"Hoaaaahmm.." Adam akhirnya menguap. Sambil merenggangkan otot-otot seperti kucing yang baru bangun tidur. Sesekali matanya masih melirik ke luar jendela. Ke arah halaman sekolah, dimana ada Rika di sana. 

Rika adalah salah satu siswa baru yang sedang menjalani MOS.

Mereka berlima; Adam, Didit, Dhike, Ratu, Dea, adalah siswa kelas 2 SMA tersebut. Mereka sama-sama berasal dari jurusan IPA. Hanya Didit yang berada di kelas IPS. Selain mereka, ada dua orang lagi, Rama dan Andari, anak kelas 3.


Pagi itu, mereka sedang tidak ada pelajaran. Sedang ada rapat guru terkait persiapan belajar murid baru setelah kegiatan MOS berakhir. MOS berakhir dua hari lagi. 

"Jalan jalan yuk, ngeliatin anak-anak baru. Lumayan.. ngecengin Rika. Anak paling cantik seangkatannya" kata Didit. 

"Hahaha. Ayuk!" Dhike menyahut.

Mereka berlima akhirnya berkeliling sekolah. Menyusuri setiap sudut bangunan dua lantai itu dengan santai dan gembira. Hanya Adam yang terlihat sedikit murung. Sesekali sikapnya seperti gelisah.

"Lo kenapa, sih?" Ratu bertanya padanya. Mereka berdua berjalan agak di belakang dari yang lain.

"Nggak sih.. nggak apa-apa"

"Yaelah.. kita juga tau kali, ini bukan lo yang biasanya. Semenjak ada kegiatan MOS, lo agak gelisah." Ratu coba menerawang, "Lo beneran suka ama Rika, si anak baru, ya?"

"Ahhaha... apaan sih, lo"

Mereka kembali berjalan.


Saat itu, para siswa baru yang melaksanakan kegiatan MOS sedang diajak berkeliling sekolah oleh panitia pelaksana, anak-anak OSIS. Diantara panitia, terlihat dua orang yang sudah familiar di Ekskul Misteri. Rama dan Andari.

Rama adalah ketua OSIS, sedangkan Andari adalah sekretarisnya. Ini tugas terakhir mereka sebelum habisnya masa jabatan. Karena mereka berdua juga lah, Ekskul Misteri tidak sampai ditutup, dulu. Karena selama ini, ekskul mereka dinilai guru kurang aktif dan hanya sekedar tempat untuk bersantai.

Recananya, setelah mereka selesai dengan tugas osisnya, Dea akan maju sebagai calon ketua OSIS. Selain Dea berbakat di akademis dan organisasi, itu juga langkah mereka untuk mempertahankan ekskul.

"Kalian pada sibuk muter-muter juga," sapa Rama, kepada lima anggotanya. Rama juga merupakan Ketua Ekskul Misteri.

"Haha.. ngecengin yang cakep, Bang!" Seru Didit. Dari situ terlihat Adam masih memandangi Rika.

"Lo jangan keseringan merhatiin dia. Mikir jorok, ya, lu?" Tanya Dhike ke Adam.

"Jorok? Tuh.. tong sampah tuh, jorok!" 

Mereka tertawa.


Akhirnya rombongan panitia dan peserta MOS kembali berkeliling sekolah. Lima anggota Ekskul Misteri pergi ke kantin untuk mencari soft drinkSesekali mereka membahas langkah untuk merekrut anggota baru. Maklum, mereka berlima adalah generasi terakhir. Rama dan Andari adalah generasi kedua. Sedangkan generasi pendiri ekskul, sudah lama lulus dan sebagian ada yang tersangkut sebuah insiden.


"Yaudah.. kita bikin promosinya pake teaterikal. Lo jadi hantunya," kata Ratu kepada Didit.

"Lah kok gue? Dea tuh, kalo lagi serius, mukanya pasti serem. Hahahaha"


Sedang asik menikmati perbincangan, tiba-tiba mereka terkejut dengan sebuah jeritan. Cukup nyaring dan sumbernya tidak jauh dari sana.

Adam segera bangkit dari tempat duduk dan mencari sumber suara. Didit, Dhike dan Dea menyusul. Ratu berlari paling belakang.

Ternyata suara itu adalah suara Ibu Rumi, salah seorang tukang kebun sekolah. Ia terperanjat, gemetaran, dengan apa yang ada di hadapannya.

Lima anggota Ekskul Misteri menghampiri dan merasakan kaget yang sama. Tanpa pernah terduga, di hadapan mereka, terbujur kaku mayat seseorang. Mayat perempuan cantik itu didapati dalam keadaan mengenaskan. Luka benda tumpul di kepalanya. Sedangkan kedua tangannya tersayat-sayat benda tajam.

Mayat itu tersandar dengan posisi duduk pada tembok luar toilet siswi. Di atas kepalanya terdapat tulisan menggunakan darah. 


BITCH


Perempuan itu, yang paling cantik seangkatannya. 

Rika.



(Bersambung ke Chapter 02)

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)