Berjalan dari Dalam Hati

2017/12/29

Ritme 2017






Sebentar lagi satu januari dua ribu lapan belas. Seperti tahun yang sudah-sudah, telah banyak persiapan pergantian tahun dimana-mana. Mulai ditandai dengan diskon toko-toko online, cuci gudang, jual terompet, promo tempat wisata dan harga kamar hotel. Banyak juga jomblo-jomblo yang mulai pepetin lawan jenis dengan jurus andalan semaksimal mungkin biar malam tahun barunya nggak sendirian atau cuma bareng keluarga dan teman-teman satu geng.

Biar ada semacam perayaan tahun baru yang berkualitas dengan pacar baru.

Di perayaan tahun baru yang sudah-sudah, gue lewati dengan biasa-biasa saja. Tahunnya saja yang berganti, namun kekasih hati tak kunjung menemani. Tetap aja sendiri, tanpa adanya pendamping hati. Terakhir tahun baru dengan status punya kekasih, seingat gue sih, tahun 2011.

((ANJIR ITU UDAH LAMA BANGET))

Jadi kayak niat cari jodoh sewaan untuk tahun baru gini...

Okelah, daripada membahas status diri yang masuk ‘Siaga’ dalam menyambut pergantian tahun, gue sebenernya pengin cerita sedikit tentang perjalanan di tahun 2017 yang menurut gue, sangat berliku dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dibanding dua puluh tiga tahun hidup gue!

Mulai dari mana, ya...?

Dari pembabakan, deh.


Hidup gue di tahun 2017, tuh, secara garis besar dibagi menjadi tiga babak. Gue ulas satu persatu deh.

1.      Pertunangan yang kandas

Tepuk tangan dulu, dong! Judulnya menggelegar, gak? Heran ya, gue kedengarannya kayak hampir merit, trus gagal gitu? Hahaha.

Iya.

Jadi, setelah melewati Januari 2017 lalu, gue kenal seorang cewek di awal Februari-nya. Cewek itu anak karyawan gue waktu kerja di hutan. Setelah masuk tahun ketiga kerja di sana, itu adalah pertama kalinya gue punya inisiatif untuk pacaran lagi. Awal-awal di sana tuh, masih berasa kurang pede aja gitu kalau mau deketin cewek. Semacam kehilangan super power yang biasanya gue keluarkan semasa remaja, waktu gue jadi playboy, dulu.

Balik ke cewek tadi, sebenarnya gak ada yang cukup spesial dari perkenalan kami. Semua kayak berlalu begitu cepat dan seketika gue dan keluarganya jadi akrab banget. Sampai setelah masuk tiga bulan berpacaran, gue ajak keluarga untuk menghadap keluarganya. Kita tukeran cincin dan saat itu, seingat gue, kami bertunangan. Dan berencana melangsungkan pernikahan pada September 2017!

Gila... Laki banget...

Setelah peluh yang cukup berasa, mempersiapkan ini-itu dengan segala materi dan tenaga, hubungan ini memiliki masalah. Doi katanya jadi takut untuk menikah mengingat ia selalu mendengar curhatan temen-temennya yang sudah berumah tangga. Curahan hati yang negatif, tentunya. Doi jadi bimbang dan tepat memasuki bulan kelima hubungan kami, ia minta pertunangan dibatalkan. Katanya, sampai waktu yang dia sendiri gak tahu!

Ngeri?

Iya. ((YAIYALAH! KEBAYANG, TIGA BULAN LAGI LO NIKAH TRUS CALON BINI NGOMONG, “KITA BATALIN AJA, ENTAH SATU ATAU DUA TAHUN LAGI. ATAU ENTAH, LAH, KAPAN-KAPAN KALO UDAH SIAP LAGI))

Waktu itu sempat gue ngerasa kalau dunia akan berakhir seketika. Tepat setelah itu pula, gue galau berat. Kayak sudah kehilangan masa depan. Ibarat punya penyakit kronis, dokter sudah bisa nentuin masa hidup kita tinggal berapa hari lagi. Udah males ngapa-ngapain. Dikasih duit sekarung juga nolak!

Singkat cerita, daripada jadinya malah kayak sinetron, gue pun berhasil move on. Gue beri sedikit kesimpulan gimana caranya gue bisa jadi biasa aja, dan malah bersyukur dengan kenyataan yang ada.

TERNYATA, GUE TERJEBAK GENJUTSU.

Serius. Mereka mungkin gak punya Sharingan. Mereka juga bukan shinobi-shinobi selevel Anbu yang bertugas mengawal Hokage.

Paan, sih..

Tapi bener. Semenjak genjutsu terlepas dari gue, semua pun kembali normal. Dan gue jadi nyadar, kalau hubungan gue sama dia emang gak seharusnya ada sejak awal. Doi cantik, untuk ukuran cewek yang cukup pas untuk menikah. Tapi serius, dia bukan tipe gue. Baik dari paras, terutama dari sifat. Kami sebenernya nggak cocok untuk disatuin. Dulu, gara-gara genjutsu aja makanya gue jadi ngerasa kalo dia adalah cewek nomor satu di dunia ini. Gue bahkan lupa sama Rona. Blasssss!

Sama sekali gak ingat Rona.

Akhirnya setelah lebaran 2017 kemarin, gue yang melepaskan dia, walaupun nyatanya, sampai detik ini dia malah masih sering ngehubungin gue untuk minta balikan. Untuk membangun hubungan yang serius lagi, katanya. Dan berharap gue bisa jadi suaminya, kelak.

NGGAK.

Jodoh gak ada yang tahu. Rahasia yang indah, menurut gue. Sekarang gue kesel, kecewa, sedih, sekaligus kasihan kalo dia lagi ngehubungin gue. Campur aduk. Tapi emang nyatanya, gue biasa aja. Gak ada perasaan yang khusus buat dia. Dia berharap ke gue, ya, bukan masalah gue. Sama aja kayak gue ngarepin Rona dan tentu, bukan masalah juga buat Rona.

Lihat masa depan aja ntar gimana.

Sumber: Dari pesbuk, yang foto aslinya udah dihapus!



2.      Meninggalkan hutan

Oktober 2014 adalah kali pertama gue mendaratkan diri di sebuah perusahaan kelapa sawit di pedalaman Kalimantan Timur. Itu adalah pertama kali, dan kayaknya cukup sekali seumur hidup, gue jadi orang hutan. Bukan Orang Utan, ya.

Harus gue akui, pekerjaan dan hidup di sana itu menyenangkan. Kita bisa kembali di masa saat semua nampak tradisional. Hidup dengan tenang ditemani kicauan burung dan suara langkah-langkah kancil. Serius. Hidup di sebuah perumahan di tengah ribuan kelapa sawit belum bisa bikin lo ngerasa jadi masyarakat yang berkembang. Ada ego yang tersiksa, khususnya buat gue.

Setelah gue memutuskan untuk menghentikan tali pertunangan, gue juga memutuskan untuk resign dari hutan. Alasannya sederhana. Gue rasa, kerjaan mah dimana-mana capek, tapi makin lama di sana, makin gak sesuai manajemennya sama diri gue. Konsep yang mereka sebut ‘Karyawan’ udah gak sepaham dengan gue. Itu doang, sih. Makanya gue memutuskan untuk pergi, setidaknya, dapat melupakan apa yang perlu dilupakan.

Aduh... Sedih, sih, ninggalin perumahan dan orang-orangnya di sana. Gimanapun juga, tiga tahun udah cukup untuk gue dan orang-orang di sana dapat membangun sebuah sistem hubungan yang menganut kekeluargaan. Apalagi, mengingat kalau gue di sana, punya posisi yang cukup dihargai banyak orang. Tapi yaudah, lah, cukup!

Foto habis Upacara Bendera 17 Agustus 2017

3.      Jakarta

Satu kata. Satu nama tempat istimewa, Daerah Khusus Ibukota. Jakarta.

Entah kenapa, semua yang ada di dalam kepala rasanya udah gak bisa ditahan lagi. Ego udah mulai mencak-mencak keluar. GUE HARUS KEMBALI KE JAKARTA. Entah bagaimana menjabarkan alasan yang ada di kepala gue waktu itu. Namun yang jelas, pertimbangan gue kala itu untuk kembali ke Jakarta, jauh sangat matang ketimbang 2013 gue pernah ke tempat yang sama. Gue semacam punya keyakinan yang kuat untuk kembali.

Akhirnya, 19 November 2017 lalu , gue mendarat lagi di Jakarta (Kalau pas 2013, bisa baca di sini). Sejuta mimpi kembali gue bawa di hati. Malah sebagian gue masukin koper saking banyaknya. Gue memutuskan untuk membawa kembali harapan yang sudah tiga tahun terkunci rapat di pedalaman Kalimantan. Gue ingin mengepakan sayap lagi! Dimana dulu, gue sempat masuk ke jalan itu namun kandas.

Sederhananya, Jakarta adalah pilihan terbaik, pikir gue. Gue udah hancur di percintaan yang aneh dan bahkan, keluarga pun udah sulit percaya sama gue untuk cari jodoh sendiri. Sudah mulai ada isu-isu pencarian jodoh dari mereka.

Hiyy... Males banget. Makanya gue kabur!

Nggak juga, sih. Bukan karena itu juga. Yang jelas, Jakarta sudah menjadi bagian yang sepertinya harus gue dalami lagi perjalanannya. Biar lebih bisa tambah dekat dengan cita dan cinta. Cita-cita jadi pendamping Rona. Cintanya, dicintai Rona.

Rona mulu.

Ke Jakarta pake jurus ninja


Yah... Mungkin itu, curhatan gue di 2017 yang dirangkum dalam sebuah postingan yang hampir terlalu panjang. Pastinya, 2017 memberikan banyak ritme berharga yang gak bisa gue lupain seumur hidup. Ada kala gue merasakan kebahagiaan, keputusasaan, penyesalan, tersingkirkan, terpuruk hingga munculnya harapan baru. 

Gue percaya, sangat percaya, masa depan gue sudah digariskan seindah mungkin oleh Tuhan. Mungkin bagi kalian, hidup gue biasa-biasa aja. Karena kalian pasti menganggap bahwa hidup kalian sendirilah yang lebih berharga dan bermakna. Begitupun pemikiran gue.

Yuk, bangkit di tahun berikutnya! Gak usah nunggu lama untuk berkarya dan punya cita-cita. Apalagi nunda-nunda nikah. Kalau ada, takis, sob!

Asal jangan sama Rona!

2 comments:

  1. Udh beberapa kali ksni dan lupa pengen komen.... INI NGAPA WRNA TEMPLETNYA UNYU BGT YAK??! Kan gue jd mrsa trsaingi. Huh :'(

    Udh gak gtu sedih lg ah bacanya. Krna udh tau crtanya versi live n lebih lengkap. Wkwk.
    Okedah. welcome to jekardah~ Slamat mnmpuh hidup baru~

    Tuh, kan wota2 detected! :o

    ReplyDelete
  2. Tulisan ini mungkin dibajak Rona. Kemungkinan, dia yang wota-wota!

    Masalah template, seharusnya nanti berubah~

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)