Berjalan dari Dalam Hati

2017/12/01

Tujuh Kutukan: Chapter 02


(Episode Sebelumnya: Chapter 01)

"Ekskul misteri di sekolah itu hanya beranggotakan tujuh orang. Tujuh Penyihir, kata siswa lainnya. Saat sedang berlangsung kegiatan MOS, salah satu siswi ditemukan tewas di Toilet siswa. Adam dan kawan-kawan tidak menyangka bahwa akan terjadi peristiwa seperti itu di sekolah"


Sekolah menjadi tempat yang tidak menyenangkan siang itu. Sekitar pukul 11:43, ditemukan sesosok mayat perempuan, siswa baru yang sedang menjalani MOS. Yang pertama kali menemukan adalah Bu Rumi, tukang kebun sekolah yang kebetulan berada di TKP. Beliau belum pernah menemukan kejadian tidak menyenangkan seperti itu sebelumnya. Wajar jika ia sangat terkejut dan nyaris pingsan.

Pihak sekolah dengan sigap menghubungi yang berwenang. Kegiatan MOS segera dihentikan dan para murid baru dipersilahkan untuk pulang. Siswa kelas dua dan tiga juga diberi anjuran untuk pulang. Tapi, tidak berlaku untuk Tujuh Penyihir dari Ekskul Misteri. Kejadian ini justru memacu keingintahuan yang lebih besar.

Rama selaku Ketua OSIS dan Ketua Pelaksana kegiatan MOS, memberikan keterangan yang dia ketahui. Awalnya Rika mohon izin untuk pergi ke toilet saat semua sedang berkumpul di perpustakaan. Katanya, ia ditemani dua orang, Sesil dan Vania. Mereka adalah dua teman Rika sejak SMP.

Vania dan Sesil kembali ke perpustakaan lebih dulu. Vania menjelaskan bahwa ia hanya menunggu di depan toilet, sedangkan Rika dan Sesil masuk ke dalam. Sesil keluar toilet duluan. Dari dalam, Rika mengatakan, "Kalian kalau mau duluan, gak apa-apa kok. Ntar aku nyusul". Makanya mereka berdua kembali lebih dulu.

Setelah itu, lebih 15 menit berlalu dan Rika belum kembali dari toilet. Bahkan, di luar pengawasan Panitia MOS, Sesil dan Vania, entah sejak kapan juga sudah tidak ada di tempat. Hingga akhirnya Rika ditemukan tewas oleh Bu Rumi.

"Pak, sekalian, saya ingin ikut dalam investigasi ini," ucap Rama, kepada salah seorang polisi setelah ia memberikan keterangan tersebut. Ia menunjukkan sebuah kartu member, dimana itu adalah tanda anggota detektif luar dinas dari Kepolisian. Rama pernah beberapa kali membantu polisi dalam beberapa kasus. Mendiang ayahnya juga adalah detektif polisi yang handal dulunya. Bagi Rama, menyelidiki suatu kasus terutama pembunuhan, merupakan hobi sekaligus tugas yang mulia.

Kembali ke ruang Ekskul Misteri, kelima anggotanya kembali berkumpul di sana. Dea dan Ratu masih terlihat sedikit shock dan selalu terbayangi kejadian tadi. Didit sedikit tidak mau tahu dan pura-pura tidak terjadi apapun. Adam terlihat makin gelisah. Dhike hanya menebak-nebak apa yang sedang dipikirkannya.

"Hey kalian!" Andari memasuki ruangan itu. Ia jelas mampu membaca situasi. Sebisa mungkin Andari  yang telah matang sifat kedewasaannya, datang dengan senyuman. Ia datang dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Itu adalah beberapa data terkait peserta MOS.

"Kalian coba periksa ini." Kata Andari, sambil meletakkan tumpukan kertas itu ke meja yang berada di tengah-tengah ruangan. "Rama bilang, kejadian ini ada hubungannya dengan salah satu peserta MOS."

Lima anggota lain langsung mencoba mencari sesuatu yang janggal pada data-data itu. Andari juga memishkan data Vania dan Sesil, dua sahabat Rika sejak SMP. Sejauh yang ia dapatkan, tidak tampak ada kejanggalan pada kedua orang itu. Hanya saja Andari mendapati kalau ternyata rumah Vania masih satu RT dengan Rika.

"Kak, ini benar alamat SMP mereka?" Tanya Dea pada Andari.

"Memangnya kenapa? Kamu tahu sesuatu?"

"Seingatku, di sana nggak ada SMP ini. Memang daerah padat penduduk sih, cuma kalau SD ada. SMP setahuku gak ada."

"Ini ada satu lagi," Dhike menyodorkan satu berkas atas nama siswa: Diana Melika. Ia juga berasal dari SMP yang beralamat sama dengan Rika. SMP yang kata Dea, sepertinya tidak ada.

"Mau memastikan?" Didit ikut nimbrung.

"Boleh! Keahlian kita kan?" Sambung Dhike, sambil melirik ke Adam.

Adam hanya mengangguk.

"Ya udah.. Aku coba datangin Rama dulu, ya," Andari pun beranjak.

Ratu dan Dea masih mencari sesuatu yang janggal dari data-data itu. Adam, Didit dan Dhike pergi ke daerah SMP Rika.

Siang itu, pukul 13:00, Setelah sekian lama, Ekskul Misteri kembali menjalankan kegiatannya!


***


"Minum." Andari duduk di samping Rama sambil membawa sebotol teh kemasan.

"Makasih, ya."

"Jadi sudah sampai mana?"

Rama menjelaskan kalau sementara ini, setelah dilakukan olah TKP dan sedikit keterangan dari dua teman Rika dan Bu Rumi, penyelidikan masih menunggu hasil autopsi. Rama juga akan dihubungi terkait dengan kelanjutan kasus ini. Terutama yang berkaitan dengan kegiatan MOS di sekolahnya.

Andari memberitahu soal letak SMP Rika yang sepertinya tidak sesuai dengan alamat di data dirinya.

"Tapi apa itu mungkin? Apa pihak sekolah tidak tahu soal SMP itu?"

Semua masih menjadi tanda tanya.

"Trio-nya si Adam lagi nyoba selidikin ke alamat itu," sambung Andari.

"Hahaha... Mereka sih, semangat kalau udah urusan luar sekolah," balas Rama.

"Ngomong-ngomong, jadi ntar ke makam Ibu?" Yang dimaksud Andari, adalah makam ibunya Rama. Rama seorang anak yatim piatu.

"Iya. Ntar sore, temenin aku, ya.."

"Siap, kapten. Haha"


***


15:00

Ketiga anak muda Itu: Adam, Dhike dan Didit sampai di daerah tempat SMP Rika. Cuaca sedang sangat panas. Matahari menyengat seakan hendak jatuh di atas kepala mereka.

Mereka berhenti di sebuah warung kecil untuk membeli pelepas dahaga. Adam menyempatkan diri untuk bertanya ke bapak penjual minuman itu. Ini adalah orang ke lima yang ia tanya.

"Pak? SMP di dekat sini, dimana, ya?"

"Hah?" Bapak itu tampak kebingungan.

Dhike mulai bertanya juga. "Bapak kenal anak ini? Ia menyodorkan foto Rika yang tertera dari berkas peserta MOS.

"Enggak.. Saya gak pernah lihat anak ini di sekitar sini"

"Ha?" Mereka keheranan.

Kembali Dhike menunjukkan diri Sesil, Vania dan Diana.

Si kakek menggelengkan kepala saat melihat foto Diana. Namun saat Melihat Sesil dan Vania pada fotonya, ia terkejut. Saking terkejutnya, ia terlihat panik dan segera menyilahkan Adam dan kawan-kawannya untuk pergi dari warungnya. Mereka keheranan.

Masih terdapat banyak tanda tanya, terutama soal SMP dan sosok Rika di lingkungan itu. Masa gak ada yang kenal?


Perjalanan mereka bertiga hampir berakhir di ujung kampung. Mereka tergeletak lemas di depan sebuah mini market. Tak sengaja, Didit melihat seseorang yang mirip Diana. Terlihat seseorang itu perlahan berjalan menuju sebuah gang sempit.

"Kayak kenal," kata Didit, diikuti anggukan dari rekan-rekannya.

"Temennya Rika. Ikutin, yok" Adam memberikan instruksi.

Mereka mengikuti Diana sampai ke sebuah gang sepi dan terpencil. Mereka mengendap dari samping gerobak-gerobak tidak terpakai. Hanya keheningan yang terasa saat itu.

Sampai di ujung gang buntu itu, Diana menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan sekeliling, memastikan bahwa ia diikuti atau tidak. Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel.
Trio Adam bersembunyi di samping sebuah  bak sampah. Adam mengeluarkan ponselnya juga, lalu merekam apa yang dibicarakan Diana via telepon.

"Aku sudah membunuhnya."

Hanya itu. Tiga kata yang diucapkan Diana kepada seseorang via telepon, cukup menjelaskan segalanya.


"Kita harus cepet kasih tau Bang Rama!" Kata Didit, sedikit berbisik.

Dhike mengangguk. Ia mengisyaratkan untuk pergi dari sana.

"Bentar..." kata Adam, pelan.

Dhike dan Didit keheranan. Ekspresi mereka seolah bertanya, "Kenapa?"

"Ini sama kayak yang gue lihat di Rika sejak gue pertama ngelihat dia."

"Maksud lo?" Tanya Dhike.

"Aura di sekitar Rika, sebelum dia meninggal, gue pikir hal biasa. Tapi sekarang gue yakin.."

"...."


"Ini.. Aura kematian. Dan sekarang, gue lihat aura itu ada di Diana"



***
(Bersambung ke Tujuh Kutukan: Chapter 03)
(Telah rilis pada 02 Januari 2018)


No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)