SUMBER GAMBAR: https://www.ciptaloka.com/find-kaos+2019+ganti+presiden



Di tengah banyaknya cobaan hidup, lagi-lagi gue harus bertahan demi sebuah pencapaian. Selain gue harus makin ekstra mengelola bisnis orang, mungkin sudah saatnya untuk membangun bisnis sendiri secara perlahan. Paling tidak, sekecil apapun bisnisnya, itu milik kita, kan. Sudah sering dengar lah ya, kalimat-kalimat motivasi demikian.



Sebagai seorang anak lelaki (dulunya anak-anak, sekarang sudah cocok untuk beranak) gue masih sedikit bertanya-tanya kenapa tidak memiliki ketertarikan pada tiga hal ini; Sepak Bola, Otomotif dan Games. Dimana games yang gue maksud di sini adalah game online dan kekinian, apapun itu. Sepertinya jarang, ada lelaki yang langsung tidak tertarik pada tiga hal itu. Komplit.





 Setiap kita (pria) yang berusaha memikat hati wanita adalah Dilan. Para wanita punya Dilannya masing-masing. Begitupun para pria, punya Mileanya masing-masing.” 
Aziz – 17 tahun (enam tahun lalu).



Icup adalah seorang kawan yang telah gue kenal kira-kira selama satu minggu terakhir. Meski terhitung sebagai teman baru, gue dan Icup sudah lumayan saling mengenal. Kami sering berkomunikasi lewat whatsapp walaupun kerjaan dia paling cuma kirimin foto-foto diri sendiri dengan beragam pose. Gue nggak tahu, deh, maksudnya apa. Padahal kita sama-sama pria.

Di suatu kesempatan, Icup mengajak gue untuk mampir ke rumahnya yang berada di kawasan Jatibening, Bekasi. Seumur-umur di Jakarta, gue belum pernah yang namanya main ke daerah sana. Dengan gue yang sekarang stay di Tebet, kata si Icup, sih, dekat. Walaupun gue kurang yakin mengingat si Icup sendiri nggak pernah keluar rumah. Icup adalah anak rumahan yang abadi.

Dengan keinginan yang amat sangat, agar gue mampir kerumahnya, Icup juga memberikan detail alamat. Ia memberikan beberapa alternatif kendaraan umum mengingat kalau gue sendiri belum punya kendaraan pribadi. Perdebatan soal kereta, busway dan angkot akhirnya berujung pada solusi yang paling mendekati kenyamanan agar tidak tersesat: Ojek online.

Siapa bilang??! 

Gue pernah, tuh, muter-muter bareng salah satu Driver Ojol karena dia juga nggak tahu alamat yang dituju. Belum lagi handphone kami maps-nya sama-sama eror. Kena, deh, lo. Kami malah saling curhat tentang alasan kenapa bisa merantau jauh-jauh ke Jakarta. Alasan dia awalnya pengin jadi koki. Karena belum kesampaian, jadi latihan dulu sebagai Driver Ojol. Gak nyambung!


Minggu, 14 Januari 2018

Dengan niat yang amat tulus, gue akhirnya bangun lebih pagi dari biasanya. Sekitar setengah sembilan gue sudah siap berangkat setelah yakin kalau sudah mandi, serta memiliki penampilan yang jauh lebih baik ketimbang biasanya. Ada deg-degan yang berasa banget pagi itu. Terdengar bodoh jika mengingat kalau yang mau gue temui hari itu adalah seorang pria.

Gue melangkahkan kaki untuk menuju Stasiun Cawang. Bersiap mengambil arah Manggarai, transit ke arah Bekasi dan turun di Stasiun Buaran. Kenapa harus ke Stasiun Buaran? Kenapa harus kereta? Kenapa tidak langsung memesan jasa Ojol saja, untuk ke rumah Icup? Ada dua hal:

1.  Gue takut driver yang gue dapat di daerah ini, malah belum tahu juga, soal daerah rumah Icup. Ntar kami malah gabut di jalan dan trek-trekan sama Ojol dari aplikasi lain. 

2. Kalau pesan Ojol dari Stasiun Buaran, harganya lebih murah ketimbang langsung dari tempat tinggal gue. Selisih sepuluh ribu kan lumayan, buat beli koyo.

Sebagai perantau yang menjunjung tinggi kenyamanan dompet dan saldo rekening, gue akhirnya memilih untuk bercumbu dengan kereta dulu. Kebetulan KMT gue saldonya masih lumayan. Alhamdulillah, menghidari perilaku mubazir. Lagi pula, Icup bilang paling enak ke rumahnya jam sepuluhan aja, mengingat di rumahnya belum beres-beres, masak dan lain-lain. Dan gue naik kereta juga belum sampai menyentuh pukul sembilan. Lumayan, jalan-jalan dulu.

Saat itu, penumpang kereta tidak terlalu ramai. Lumayan, dapat tempat duduk meskipun sebenarnya gue sudah terbiasa untuk berdiri. Berdiri di kereta, lebih keren, menurut gue. Apalagi kita gelantungan pake satu tangan terus muka dibikin kusut dan sok pusing. Ngantuk-ngantuk seolah kita adalah orang penting paling sibuk segerbong kereta. Beuh! 

(Mungkin karena di Kalimantan nggak ada kereta, gue jadi ngerasa kalau ini menyenangkan. Sebenarnya juga karena terlalu sering nonton film Jepang yang banyak pakai latar stasiun, sih.)


Sesampainya di Stasiun Buaran, gue keluar dan kali ini merasa makin asing. Gue suka gitu, sih. Suka ngerasa asik sendiri dan sekaligus sok bingung saat sampai di tempat yang baru. Deg-degan gitu, kalau tersesat.

“Pak, kalo ke arah Kalimalang, Curug, Kapin, itu lewat mana? Saya harus nunggu Ojol dimana?” tanya gue ke salah satu tukang kopi sepeda.

“Ohhh... abang tinggal tunggu di sini, aja. Di sisiku, Bang”

Ada hening sebentar.

“Di order aja, Bang. Bilang aja di seberang Stasiun Buaran, depan Bajaj.”

“Kan, gak ada Bajaj, Pak?”

“Oh iya, ya. Bilang aja bajajnya lagi narik.”

“Oke, oke.”

Jujur gue gak tahu, sepenting apa informasi ‘Bajajnya lagi narik’ buat Driver Ojol.


Akhirnya gue langsung dapat driver yang bersedia mengantar. Gue menunggu sebentar (di sisi) tukang kopi bersepeda sambil membahas tawuran serta pernyataan cinta keponakannya ke anak pejabat. Gue juga nggak ngerti mengapa kami bisa berbicara secara lancar tanpa hambatan. Kayaknya, nyambung aja, gitu.

Setelah Pak Ojol datang, gue pun berpisah dari tukang kopi bersepeda. Wajahnya yang kebapak-bapakan mendadak sangat haru karena mendapati perpisahan ini. Maafkan aku, Pak, semoga ponakannya cepat punya istri~

Amiiinn... (Serius, mohon doanya).


Gue beruntung, karena Driver Ojol yang gue pakai jasanya ini, ternyata tahu tempatnya. “Kapin, ya?”

“Yoi, Pak!” jawab gue, setelah melihat informasi alamat via whatsapp dari Icup. Dan gue akhirnya turun di depan gerbang Jalan Kemang Satu, lalu mengabari Icup kalau gue sudah sampai.

Deg-degan begitu sampai di gapura Kemang Satu

Akhirnya gue diberi petunjuk untuk masuk ke dalam dan mengikuti beberapa arahan melalui whatsapp si Icup. Gue pun melangkahkan kaki. Dan gue disambut di pertigaan gang. Namun bukan Icup yang ada di sana, melainkan seorang gadis mungil berkacamata. Utusannya si Icup, mungkin.

Kami (gue dan gadis mungil berkacamata) menyusuri gang dan nggak lama kemudian, sampai di rumah Icup! Gue lega karena tempatnya nggak jauh dari depan. Ya, walaupun gue udah nggak sebahagia tadi sih, mau ketemu Icup. Habisnya gadis yang menjemput gue ini lebih menarik.

Masuk ke dalam, gue ketemu sama neneknya Icup. Gue bersalaman persis seperti perilaku seorang calon menantu. Lah, emang gue mau kawin ama Icup?! Pokoknya gitu, lah. Gue pun basa-basi sedikit, sambil menunggu respon dari nenek. Mau baca bagaimana cara berkomunikasinya dulu, baru gue siapin jurus buat mengimbanginya. Gue sangat berhati-hati kalau bicara sama orang tua.

“Capek, ya...? Perjalanan jauh, kan?” tanya si nenek.

“Iya, Nek. Jauh. Dari Kalimantan”

“Buset?!”

“Eh, maksudnya, dari Kalimantan, trus stay di Tebet. Nah, ini baru dari Tebet, kok”

“Ooooh” lalu si nenek ketawa. Cara ketawanya membuat gue berkesimpulan, ‘Nah! Bisa cocok nih!’


Akhirnya gue dan nenek banyak ngobrol. Dia juga sampe nanya-nanya soal keseriusan gue terhadap seorang gadis yang gue maksud dipostingan sebelumnya. Agak malu-malu kuda, gue mengutarakan isi hati gue dengan gaya yang biasanya. Serius, tapi santai. Yang penting nenek bisa menangkap apa maksud dari hati gue.

Nah, saat itu si gadis mungil berkacamata tadi membuatkan gue jus alpukat yang terlalu kental. Gue jadi ingat sabun colek, kalau lihat jus ini. Tapi karena jus itu adalah hasil tangan si gadis tadi, jadi gue minum aja sabun coleknya. Maksud gue, jus alpukatnya. Ia juga menyuguhkan segelas air dingin dengan tangannya yang aduhai putih bersih. Gue jadi nggak perduli ini rumah Icup atau bukan. Intinya, gue ketemu cewek cakep!

Si Icup pun keluar, masih pakai sarung yang sama seperti foto-fotonya yang sering dikirim ke whatsapp gue. Mungkin itu sejenis sarung favotinya dengan motif bulu-bulu. Icup terlihat lebih agamis.

Memasuki waktu makan siang, gue diajakin makan sama gadis mungil berkacamata itu. Si nenek masih kenyang, sedangkan Icup mukanya sedang masam. Ogah makan. Katanya enakan nonton tivi. Lagian dia sedang malas ngapa-ngapain karena ngambek. Dia ngambek karena yang datang adalah gue, bukan wanita idamannya. 

Bodo amat, Cup!


Gue pun makan siang bareng si gadis mungil berkacamata itu. Kami menghabiskan makan siang yang berfaedah dengan santapan berupa sup, baso, tempe oreg, ayam goreng dan sambel! Selain kenyang, gue juga bisa jadi lirik-lirik dan bercengkrama dengan dia yang menggugah ketabahan hati tersebut. Kami  di meja makan malah sampai satu jam. Keindahan Tuhan mana lagi yang kau dustakan, Cup?!

Waktu itu juga kita kedatangan keluarga si Icup yang lain. Namanya Sakha, bocah tiga tahun yang langsung salaman sama gue waktu ketemu. Bocah petakilan itu memberikan sebuah pengetahuan kalau makan nasi pakai es krim itu enak! Dia membuktikannya!


Setelah makan siang, ehh... akhirnya Icup kedatangan tamu istimewanya juga! (Iya, bukan gue). Tamunya adalah seorang wanita muda yang masih perawan tulen. Icup pun cengar-cengir, menggoyang-goyangkan sarungnya, seperti kebelet kawin. Karena itu pun, akhirnya dia mau makan. Makannya bareng si wanita itu. 

Waktu terus bergulir. Kami menghabiskan sore dengan banyak menebar cerita dan tawa. Kami berkomunikasi dengan cara yang indah. Gue, si gadis mungil berkacamata dan nenek. Icup mah, masa bodoh. Dia lebih memilih mojok berdua dengan ceweknya, sambil nonton Rumah Uya. Kata Icup, itu acara favoritnya kalau bareng pacar. 

Bodo amat, Cup! Bodo!


Cuaca lagi hujan sih, adem. Dan memang pada saat seperti itu, berada dekat dengan sang pujaan hati benar-benar menghangatkan suasana. Sepeti, kamu tidak ingin ada yang lain, datang mengganggu. Gue jadi makin akrab dengan gadis mungil berkacamata itu. Gue semakin sering menatap matanya dan jatuh ke tempat dimana semua keindahan berada...

Aihhh...

 
Karena hujan yang masih belum menentu, kadang berhenti, terus datang lagi, terus berhenti lagi, makanya gue memutuskan untuk pulang lebih malam, nunggu hujannya benar-benar berhenti. Si Icup sudah mulai capek dengan tivi dan gue lihat dia seperti mencoba menarik perhatian ceweknya dengan pura-pura mati. Mereka pun saling bergerak erotis, saling menunjukkan kemampuan. Tapi tenang, mereka nggak mesum. Mereka tidur di kamar transparan yang terpisah karena belum muhrim. Walaupun kabarnya, mereka akan segera dikawinkan! 

Ahelah... enak banget, Cup!



Malam harinya, jam delapan, setelah makan malam, gue bergegas pulang dan berpamit kepada nenek. Hujan tak lagi menampakkan diri, hanya menyisakan dingin yang romantis. Berdayu mengiringi pandanganku malam itu kepada gadis mungil berkacamata yang ternyata tingginya cuma setenggorokan. Selain lucu, ia juga baik hati karena setiap malam menyisihkan sisa makanan untuk ditaruh di depan pagar, supaya bisa dimakan kucing liar. Ah... kamu memang keibuan!

Gue pun pergi diiringi lambaian selamat jalan oleh gadis mungil berkacamata tersebut. Sampai-sampai, rasanya berat untuk pulang. Gue pun ikut melambaikan tangan sambil jalan mundur. Sekalipun ada kereta di belakang gue, tetep aja nggak bakal gue lewatkan momen saling melambaian tangan ini. Rasanya lebih manis dari jus alpukat pakai susu!


Dan, saat itu juga, Icup pun mendadahi gue dengan ekornya yang bergoyang-goyang.

Eh, gue lupa bilang, ya? Icup itu adalah ikan cupang peliharaan Lulu.


***


Epilog:

Pulangnya, gue naik Ojol lagi, ke Stasiun Buaran.

“Mau kemana, Bang, kok ke stasiun?” tanya driver ojol, di perjalanan.

“Mau balik, ke rumah, Bang. Gak jauh, sih”

“Oh... dari mana emang?”

Kalau gue jawab dari rumah Icup, kan nggak keren. Malam yang dinginnya romantis ini nanti jadi ternoda karena gue ketahuan baru balik dari rumah cowok. 

Akhirnya gue jawab aja, 

“Gue habis dari rumah calon nih, Bang. Dia minta gue untuk kenalan sama keluarganya. Habisnya, gue mau serius sama dia”


Asik!

Si Icup (kiri), sedang 'meleleh' karena tatapan ceweknya.









Hingga hari ini, seingatku, baru genap tiga puluh hari aku mengenalmu. Cukup singkat, mengingat kalau semuanya telah terungkap. Bukan rencanaku, apalagi rencanamu. Kita hanya terikat oleh sebuah benang yang tipis, namun sepertinya, cukup kuat untuk menjerat. Lagi pula, aku yakin kamu tidak pernah sekalipun terpikir kalau akan ada seorang pemuda yang berasal jauh dari Kalimantan sana, menuliskan ini.

Keyakinanku amat besar akan hal itu.


Kebun Binatang Ragunan dan para penghuninya, mengejek aku hari itu. Tanpa kamu sadar, mereka menjadi saksi bisu atas lirikan pertamaku padamu. Bahkan sebelum aku mengambil tempat duduk, semeja denganmu, aku sudah memperhatikanmu. Ada daya tarik yang tidak bisa ku jelaskan begitu tahu, ada yang seperti kamu di sana. Sesuatu yang, menarik diriku untuk diam-diam, menaruh pandangan kepadamu.

Saat itu, aku sudah mulai merasa aneh.


Pertemuan kita yang kedua bisa dibilang, awalnya tidak sengaja. Lagi-lagi, hanya seikat benang tipis yang menghubungkan kita. Asal tahu saja, aku tidak akan pergi ke tempat kamu merayakan tahun baru, jika bukan karena tahu kalau kamu ada di sana. Bagimu mungkin biasa saja. Tapi bagiku, terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seorang teman yang sudah mengunggah foto kalian berdua saat itu. Aku jadi tahu, kamu ada di sana.

Diselingi canda tawa mereka-mereka yang sudah akrab sejak lama, aku sebagai pendengar hanya menghabiskan malam pergantian tahun dengan penuh ketenangan. Ada kenyamanan. Ada kamu, yang terpenting. Saat itu aku sudah tidak hanya sekedar ingin melirik, melihat atau memandangimu dengan durasi yang lebih lama. Tanda tanya akan bagaimana caramu menghadapi dunia, mulai meluas di kepala.

Aku, ingin tahu kamu, lebih dari ini.

Belum ada pertemuan ketiga hingga tulisan ini aku buat. Aku menanti hari itu dengan menghabiskan hampir setiap waktu senggang untuk membaca tulisan-tulisan harian di blog pribadimu. Perlahan aku menemukan jawaban, tentang teka-teki, bagaimana sejak awal aku sudah menaruh hati padamu. Ternyata ada misteri yang menyenangkan. Ada senyum hatimu, yang meruntuhkan bentengku.

Kamu, membuatku sadar bahwa mungkin, aku tidak lagi sendiri. Mengetahui apapun tentangmu membuat aku ingin jujur. Membuat aku juga ingin memberitahumu semua tentangku pula. Hingga saat kita kelak berdiskusi dan menemukan kekosongan masing-masing, kita dapat pula, saling mengisi kekosongan itu dengan hal-hal yang kita punya.

Berkatmu, aku kembali menemukan titik tuju. Suatu hal yang ku rasa, seharusnya tidak datang secepat ini. Tidak seperti tiga menit menyeduh mie instan dan langsung bisa dinikmati. Walau jujur, tiga menit pertama aku mengenalmu, aku sudah menaruh hati.

Ku yakinkan hatiku untuk semakin hari, semakin mendalami ada apa di balik layar dirimu. Walaupun belum semuanya, namun aku hampir paham, kamu, sejatinya seperti apa. Selanjutnya, aku akan terus, dan terus mencari tahu. Aku ingin menjadikanmu tempat dimana aku bisa dipercaya, diyakini dan merasa terlindungi. Aku ingin kamu memastikan juga, apakah kamu nyaman dengan benang tipis ini, atau tidak. Mari, aku bantu.

***

Di balik kisah-kisah laluku, terkadang aku sangat sadar tentang siapa aku sekarang. Seumuranku, menemukan yang terbaik sepertinya sudah makin gencar dilakukan. Sudah mulai letih mencari. Inginnya bertahan, lalu berhenti sampai mati. Namun, seorang teman menyadarkanku. Aku tidak boleh berhenti karena sadar ini sudah waktunya untuk berhenti. Tapi, berhenti saat kamu, memang bisa kuajak untuk berhenti. Penjajakan diperlukan katanya, sampai aku bisa benar-benar yakin denganmu.

Aku ingin mencobanya. Tidak. Aku ingin melakukannya. Sebisa mungkin, aku ingin membawamu berhenti bersama. Aku ingin mengajakmu merajut benang tipis itu menjadi sesuatu yang jauh lebih kokoh. Atau, kita pilin saja menjadi sebuah titik. Lalu menyimpannya bersama, hingga menua.

Mungkin, aku hanya sanggup seperti ini. Bagaimanapun kerasnya aku coba menuliskan kata-kata yang indah, tidak akan menandingi keindahanmu yang membuat aku tidak sanggup berkata-kata. Keseriusanku padamu tidak akan tampak dari sekedar jari-jemari yang bercumbu dengan keyboard laptop. Kamu butuh, mengenalku lebih dari ini untuk mengetahuinya.


Memiliki satu titik denganmu, saat ini, adalah yang kuinginkan. Aku ingin menjaga titik itu bersamamu, dan menjadikan putih di sekitarnya sebagai lambang kebahagiaan. Tidak muluk-muluk, aku ingin mengajakmu mencobanya. Keputusanku sampai di sini. Selanjutnya, kamu juga harus tegas, alih-alih mengambil keputusan tentang kita yang menjaga titik ini.

Aku merapikan rencana di sini. Kamu menetap di sana. Aku sudah berterimakasih kepadamu, karena bersedia untuk kukejar. Dan, kamu tidak boleh bergerak. Aku berjanji padamu untuk bergegas ke sana. Sebagaimana inginmu agar aku berlari, lebih kencang dari biasanya. Dan asal tahu, melalui tulisan ini, aku ingin memastikan ketersediaanmu.

Bolehkah, aku menangkapmu?




(Episode sebelumnya: Chapter 03)

"Terkait kasus kematian Rika, Trio Adam, Dhike dan Didit melakukan penelusuran untuk menemukan keberadaan Diana. Diana masih satu-satunya tersangka yang diburu. Namun, belum sempat sepatah kata pun terucap saat menemukan Diana, ia malah tewas tertembak oleh seorang sniper handal. Adam dan kedua kawannya mencoba mengejar pelaku yang berapa tidak jauh dari lokasi penembakan"


(Episode Sebelumnya: Chapter 02)

"Tiba-tiba kasus tewasnya Rika di area sekolah, membuat Tujuh Penyihir dari Ekskul Misteri mulai aktif bergerak lagi. Dimulai dari penyelidikan Trio Adam, Didit dan Dhike. Mereka mengikuti Diana, salah satu kerabat Rika dan mendapati sebuah kenyataan yang mengejutkan. Terlebih lagi, Adam semakin terkejut karena Diana, terlihat memiliki sebuah aura yang persis dengan Rika."





Menandai awal tahun 2018, tulisan ini sengaja gue buat. Sengaja gak sengaja, dibuat karena kebetulan punya suatu hal yang memang ingin dituliskan. Sengaja ingin dituliskan. Gak sengaja kepikiran apa yang mau dituliskan.

Oke, cukup berbelit.

Sebelum mengetik tulisan ini, gue baru saja keluar dari Stasiun Juanda. Ceritanya habis memadu kasih dengan kereta (gue ketiduran dan gak sengaja nyium-nyium pintu kereta karena gue berdiri). Selepas itu, gue menyusuri trotoar Jalan Juanda dan mendapati pedagang sepatu yang buka lapak di pinggir trotoar. Iseng-iseng, gue nanya-nanya harga. Kebetulan ada sepatu yang jenisnya sama dengan yang gue lagi pakai.

“Berapaan, nih?” Tanya gue.

“Wah... ini mirip dengan sepatu yang abang pake. Abang pasti tahu, lah, harganya.”

Gue manggut-manggut.

“Tapi buat abang, mah, harga damai aja. Dua tujuh lima, deh” katanya.

Gue mengerutkan dahi. Bukan masalah harganya. Masalahnya, perasaan, kami gak pernah berantem.

Ngapa dia minta damai?

(SKIP)


Oke, setelah itu, gue kembali melanjutkan langkah kaki menuju halte Transjakarta terdekat. Ada angin yang cukup kencang dan gue berjalan sambil menyilangkan tangan di depan dada. Mendekap jaket. Sementara itu, benak hati seperti ingin menuliskan sesuatu. Tetiba terpikirkan sebuah kata yang mungkin cukup menjabarkan segala macam resolusi tahun 2018. Perlahan mulai berurai di kepala dan gue berucap pelan,

“Ketenangan”

Gue butuh ketenangan. Setidaknya, setelah 2017 yang penuh liku, gue ingin sejenak menikmati masa-masa yang tenang sambil mengulas setidaknya ribuan hal yang sedang menggantung di kepala. Bermacam hal di 2017 yang gue lakukan, rasanya masih penuh dengan keterburuan. Kayak tergesa-gesa gitu, dalam melakukan sesuatu. Hasilnya? Gue seperti makin jauh dengan apa yang kita sebut impian.

Alih-alih kepala gue sudah terasa sesak oleh satu kata itu, gue pun memutuskan untuk menulis ini. Setelah sampai di Halte Harmoni, gue berjalan sedikit ke MOR di Jalan Gajah Mada dan memulai ritual mengetik ditemani kopi hangat.

Cuss~

Ketenangan di 2018, khususnya gue peruntukan bagi tulisan. Gue suka ngetik, atau nulis, lah. Meskipun gue belum cakap dalam berbahasa yang baik. Kayak susah gitu, mau nulis yang formal-formal. Soalnya, semenjak tiga tahun jauh dari dunia luar, membuat gue semacam kehilangan dan bahkan tidak update terhadap beberapa kosa kata. Nah, ini aja gue sulit jelasinnya gimana.

Pokoknya, ada rasa dimana gue ingin meluangkan waktu di 2018 lebih banyak untuk menulis. Gak bisa dipungkiri, gue juga harus punya pekerjaan tetap mengingat itu diperlukan untuk menyokong keuangan di perantauan. Dan kini, gue sudah kerja. Tinggal gimana membagi waktu dengan hobi menulis ini.

Sekalipun harapan gue, hobi ini kelak bisa jadi sandaran hidup.


Bermula dari malam tahun baru 2018, gue melewatinya di sebuah tempat yang pas dengan suasana hati kala itu. Tenang. Meskipun, ada sedikit keinginan untuk merayakannya dengan kemeriahan, tapi ternyata gue gak salah pilih tempat. Tidak. Mungkin, gak salah, kalau temen gue ngajak bermalam tahun baru di sana. Di sebuah guesthouse baru di kawasan tebet. Maharani Guesthouse.

Melewati malam tahun baru di ketenangan, baru gue rasakan kala itu. Saat pergantian tahun 2017 ke 2018 kemarin. Rasanya kurang pas juga sih, gue hanya jadi pendengar di sana. Kayak gak bisa jadi diri gue sendiri mengingat gue gabung dengan beberapa anak yang baru gue kenal. Gue emang gitu. Semua yang udah tahu gue banget, pasti yakin, gue bukan anak yang mudah diam dan hanya jadi pendengar. Tapi itu kejadian di malam tahun baru kemarin.

Karena malam itu tenang dan gue hanya sebagai pendengar dengan keterdiaman, gue jadi banyak mendapat renungan-renungan ajaib yang tidak sengaja datang. Seolah, tempat gue menjalani pergantian tahun itu, telah menjadi takdir yang membuat gue harus memastikan sesuatu. Tenang dalam merencanakan, menjalani ke depannya. Yap, sekali lagi, gak salah, gue menghabiskan malam tahun baru di sana. Penuh dengan pembicaraan orang lain yang menurut gue, sebagian, sangat bermanfaat.

Banyak kisah-kisah yang cukup menginspirasi di balik canda tawa anak-anak yang mengabiskan malam pergantian tahun satu atap dengan gue itu. Bercanda, tapi bermanfaat. Setidaknya, sebagian besar. Gue senang karena setelah itu pemikiran gue jadi sedikit terbuka. Semacam dapat pencerahan untuk melewati tahun yang baru.

***

Selamat tahun baru 2018.

Bagi sebagian orang, mungkin pergantian tahun adalah sesuatu yang luar biasa, dengan berbagai alasan mereka. Bagi sebagian lagi, mungkin malah kebalikannya. Dan gue, jelas adalah orang yang berada di tengah-tengahnya. Karena tidak cuma tahun baru masehi, tahun baru hijriyah, atau bahkan minggu baru, hari baru, selalu ada hal-hal yang gue rencanakan di awal. Meski beberapa banyak yang lepas kontrol, setidaknya memulai sesuatu yang baru dalam kurun waktu tertentu, bisa membuat gue sedikit menemukan harapan baru.

Karena buat gue, harapan punya kekuatan tersendiri.

Aduh... jadi ngelantur.

Intinya sih, gue hanya ingin menuliskan apa yang gue pikirkan dalam upaya menjalani tahun 2018 ini. Kata mereka, resolusi. Tema 2018 dalam hidup gue, ya, ketenangan. Gue sudah terlanjur banyak mengambil keputusan yang tergesa-gesa seperti yang gue tulis di postingan sebelum ini. 2017 memang luar biasa! Saatnya melebarkan sayap di 2018!

Buat kalian yang juga punya segudang resolusi dan mimpi di 2018, yuk semangat. Gapai bareng dengan jalan masing-masing. Gue percaya, perjalanan kita pasti punya kisah yang berliku nan menyenangkan. Susah sedihnya ada, sebagai bumbu tambahan.


Dan satu lagi, sejak Satu Januari, sepertinya kamu bukan lagi hanya sekedar kenalan buatku.

‘Kamu’ di sini, bukan berarti makanan atau kereta api.

Kalian bisa menyebut ‘Kamu’ ini, sebagai ‘Dia’.

Dia manusia.

Ahelah, ribet!


*Ditulis 01 Januari 2018, jam 23:45 WIB di sudut teras MOR Gajah Mada.