Ketenangan 2018


Menandai awal tahun 2018, tulisan ini sengaja gue buat. Sengaja gak sengaja, dibuat karena kebetulan punya suatu hal yang memang ingin dituliskan. Sengaja ingin dituliskan. Gak sengaja kepikiran apa yang mau dituliskan.

Oke, cukup berbelit.

Sebelum mengetik tulisan ini, gue baru saja keluar dari Stasiun Juanda. Ceritanya habis memadu kasih dengan kereta (gue ketiduran dan gak sengaja nyium-nyium pintu kereta karena gue berdiri). Selepas itu, gue menyusuri trotoar Jalan Juanda dan mendapati pedagang sepatu yang buka lapak di pinggir trotoar. Iseng-iseng, gue nanya-nanya harga. Kebetulan ada sepatu yang jenisnya sama dengan yang gue lagi pakai.

“Berapaan, nih?” Tanya gue.

“Wah... ini mirip dengan sepatu yang abang pake. Abang pasti tahu, lah, harganya.”

Gue manggut-manggut.

“Tapi buat abang, mah, harga damai aja. Dua tujuh lima, deh” katanya.

Gue mengerutkan dahi. Bukan masalah harganya. Masalahnya, perasaan, kami gak pernah berantem.

Ngapa dia minta damai?

(SKIP)


Oke, setelah itu, gue kembali melanjutkan langkah kaki menuju halte Transjakarta terdekat. Ada angin yang cukup kencang dan gue berjalan sambil menyilangkan tangan di depan dada. Mendekap jaket. Sementara itu, benak hati seperti ingin menuliskan sesuatu. Tetiba terpikirkan sebuah kata yang mungkin cukup menjabarkan segala macam resolusi tahun 2018. Perlahan mulai berurai di kepala dan gue berucap pelan,

“Ketenangan”

Gue butuh ketenangan. Setidaknya, setelah 2017 yang penuh liku, gue ingin sejenak menikmati masa-masa yang tenang sambil mengulas setidaknya ribuan hal yang sedang menggantung di kepala. Bermacam hal di 2017 yang gue lakukan, rasanya masih penuh dengan keterburuan. Kayak tergesa-gesa gitu, dalam melakukan sesuatu. Hasilnya? Gue seperti makin jauh dengan apa yang kita sebut impian.

Alih-alih kepala gue sudah terasa sesak oleh satu kata itu, gue pun memutuskan untuk menulis ini. Setelah sampai di Halte Harmoni, gue berjalan sedikit ke MOR di Jalan Gajah Mada dan memulai ritual mengetik ditemani kopi hangat.

Cuss~

Ketenangan di 2018, khususnya gue peruntukan bagi tulisan. Gue suka ngetik, atau nulis, lah. Meskipun gue belum cakap dalam berbahasa yang baik. Kayak susah gitu, mau nulis yang formal-formal. Soalnya, semenjak tiga tahun jauh dari dunia luar, membuat gue semacam kehilangan dan bahkan tidak update terhadap beberapa kosa kata. Nah, ini aja gue sulit jelasinnya gimana.

Pokoknya, ada rasa dimana gue ingin meluangkan waktu di 2018 lebih banyak untuk menulis. Gak bisa dipungkiri, gue juga harus punya pekerjaan tetap mengingat itu diperlukan untuk menyokong keuangan di perantauan. Dan kini, gue sudah kerja. Tinggal gimana membagi waktu dengan hobi menulis ini.

Sekalipun harapan gue, hobi ini kelak bisa jadi sandaran hidup.


Bermula dari malam tahun baru 2018, gue melewatinya di sebuah tempat yang pas dengan suasana hati kala itu. Tenang. Meskipun, ada sedikit keinginan untuk merayakannya dengan kemeriahan, tapi ternyata gue gak salah pilih tempat. Tidak. Mungkin, gak salah, kalau temen gue ngajak bermalam tahun baru di sana. Di sebuah guesthouse baru di kawasan tebet. Maharani Guesthouse.

Melewati malam tahun baru di ketenangan, baru gue rasakan kala itu. Saat pergantian tahun 2017 ke 2018 kemarin. Rasanya kurang pas juga sih, gue hanya jadi pendengar di sana. Kayak gak bisa jadi diri gue sendiri mengingat gue gabung dengan beberapa anak yang baru gue kenal. Gue emang gitu. Semua yang udah tahu gue banget, pasti yakin, gue bukan anak yang mudah diam dan hanya jadi pendengar. Tapi itu kejadian di malam tahun baru kemarin.

Karena malam itu tenang dan gue hanya sebagai pendengar dengan keterdiaman, gue jadi banyak mendapat renungan-renungan ajaib yang tidak sengaja datang. Seolah, tempat gue menjalani pergantian tahun itu, telah menjadi takdir yang membuat gue harus memastikan sesuatu. Tenang dalam merencanakan, menjalani ke depannya. Yap, sekali lagi, gak salah, gue menghabiskan malam tahun baru di sana. Penuh dengan pembicaraan orang lain yang menurut gue, sebagian, sangat bermanfaat.

Banyak kisah-kisah yang cukup menginspirasi di balik canda tawa anak-anak yang mengabiskan malam pergantian tahun satu atap dengan gue itu. Bercanda, tapi bermanfaat. Setidaknya, sebagian besar. Gue senang karena setelah itu pemikiran gue jadi sedikit terbuka. Semacam dapat pencerahan untuk melewati tahun yang baru.

***

Selamat tahun baru 2018.

Bagi sebagian orang, mungkin pergantian tahun adalah sesuatu yang luar biasa, dengan berbagai alasan mereka. Bagi sebagian lagi, mungkin malah kebalikannya. Dan gue, jelas adalah orang yang berada di tengah-tengahnya. Karena tidak cuma tahun baru masehi, tahun baru hijriyah, atau bahkan minggu baru, hari baru, selalu ada hal-hal yang gue rencanakan di awal. Meski beberapa banyak yang lepas kontrol, setidaknya memulai sesuatu yang baru dalam kurun waktu tertentu, bisa membuat gue sedikit menemukan harapan baru.

Karena buat gue, harapan punya kekuatan tersendiri.

Aduh... jadi ngelantur.

Intinya sih, gue hanya ingin menuliskan apa yang gue pikirkan dalam upaya menjalani tahun 2018 ini. Kata mereka, resolusi. Tema 2018 dalam hidup gue, ya, ketenangan. Gue sudah terlanjur banyak mengambil keputusan yang tergesa-gesa seperti yang gue tulis di postingan sebelum ini. 2017 memang luar biasa! Saatnya melebarkan sayap di 2018!

Buat kalian yang juga punya segudang resolusi dan mimpi di 2018, yuk semangat. Gapai bareng dengan jalan masing-masing. Gue percaya, perjalanan kita pasti punya kisah yang berliku nan menyenangkan. Susah sedihnya ada, sebagai bumbu tambahan.


Dan satu lagi, sejak Satu Januari, sepertinya kamu bukan lagi hanya sekedar kenalan buatku.

‘Kamu’ di sini, bukan berarti makanan atau kereta api.

Kalian bisa menyebut ‘Kamu’ ini, sebagai ‘Dia’.

Dia manusia.

Ahelah, ribet!


*Ditulis 01 Januari 2018, jam 23:45 WIB di sudut teras MOR Gajah Mada.
 


11 comments:

  1. Owalaaah, pantessan kmren di MGT diem2 bae. Trnyata dapet wangsit buat nulis resolusi. Wkwkw.

    Gak nyangka jg sih, krna di kopdar sblumnya jd pencerita, eh pas di mgt malah cicing wae. Pdhal di MGT ga ada tnang2nya loh mnurut gue. Apalagi pas jam 12 kmbang api dar der dor. Brisiikkk! Tenang darimananyaa?:')wkwk

    Yasuda, slmat mnjalani lembaran hidup baru di 2018!
    Eh btw templet pink unyu-nya udah ganti cuyi~ bhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih tenang ituu.. Biasanya gue liat kembang api tuh pas di atas kepala. Sejengkal dari rambut! Ekstrim!

      Bingung ngurusin template, Lu. Tapi daripada dikira gue imut, mending ganti sementara :))

      Delete
  2. Selamat tahun baru kaks! XD
    Ane malah ga punya resolusi sama sekali (kayak biasa).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kemana aje lu??! Happy new year ya!! Haha. Nulis parody lagi nyok!

      Delete
    2. KKN bang, tiap hari pulangnya malem sama ditekan terus sama urusan kuliah. Beruntung sih udah selesai KKN tahun kemaren sih. Boleh aja XD

      Delete
    3. Boruto lu update gak? Gue nulis parody episode 1-nya.

      Delete
    4. Ane malahan gak nonton Boruto. Naruto aja ane gak ikutin, kepanjangan dan kebanyakan flashbacknya. Nanti ane coba minta dari temen-temen ane yang ngikutin atau dovvnload sendiri XD

      Delete
    5. Boruto gak ribet kayak Naruto gitu, sih. Coba aja Nonton Eps 1. Ini kalo udh jadi draftnya, gue kirimin deh.

      Delete
    6. Okelah, kalau begitu ane nonton boruto dulu. Jatah nonton banyak ini XD

      Delete
  3. Nggak usah nulis yg formal-formal deh bang...

    Ntar malah jadi ABNORMAL... Hahahaa..

    Salam kenal bang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sih.. Ntar isi tulisannya malah dianggap hoax semua. Huahaha.

      Dan, salam kenal balik!

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)