Ini Ximin

Monday, January 15, 2018

Mampir ke Rumah Icup




Icup adalah seorang kawan yang telah gue kenal kira-kira selama satu minggu terakhir. Meski terhitung sebagai teman baru, gue dan Icup sudah lumayan saling mengenal. Kami sering berkomunikasi lewat whatsapp walaupun kerjaan dia paling cuma kirimin foto-foto diri sendiri dengan beragam pose. Gue nggak tahu, deh, maksudnya apa. Padahal kita sama-sama pria.

Di suatu kesempatan, Icup mengajak gue untuk mampir ke rumahnya yang berada di kawasan Jatibening, Bekasi. Seumur-umur di Jakarta, gue belum pernah yang namanya main ke daerah sana. Dengan gue yang sekarang stay di Tebet, kata si Icup, sih, dekat. Walaupun gue kurang yakin mengingat si Icup sendiri nggak pernah keluar rumah. Icup adalah anak rumahan yang abadi.

Dengan keinginan yang amat sangat, agar gue mampir kerumahnya, Icup juga memberikan detail alamat. Ia memberikan beberapa alternatif kendaraan umum mengingat kalau gue sendiri belum punya kendaraan pribadi. Perdebatan soal kereta, busway dan angkot akhirnya berujung pada solusi yang paling mendekati kenyamanan agar tidak tersesat: Ojek online.

Siapa bilang??! 

Gue pernah, tuh, muter-muter bareng salah satu Driver Ojol karena dia juga nggak tahu alamat yang dituju. Belum lagi handphone kami maps-nya sama-sama eror. Kena, deh, lo. Kami malah saling curhat tentang alasan kenapa bisa merantau jauh-jauh ke Jakarta. Alasan dia awalnya pengin jadi koki. Karena belum kesampaian, jadi latihan dulu sebagai Driver Ojol. Gak nyambung!


Minggu, 14 Januari 2018

Dengan niat yang amat tulus, gue akhirnya bangun lebih pagi dari biasanya. Sekitar setengah sembilan gue sudah siap berangkat setelah yakin kalau sudah mandi, serta memiliki penampilan yang jauh lebih baik ketimbang biasanya. Ada deg-degan yang berasa banget pagi itu. Terdengar bodoh jika mengingat kalau yang mau gue temui hari itu adalah seorang pria.

Gue melangkahkan kaki untuk menuju Stasiun Cawang. Bersiap mengambil arah Manggarai, transit ke arah Bekasi dan turun di Stasiun Buaran. Kenapa harus ke Stasiun Buaran? Kenapa harus kereta? Kenapa tidak langsung memesan jasa Ojol saja, untuk ke rumah Icup? Ada dua hal:

1.  Gue takut driver yang gue dapat di daerah ini, malah belum tahu juga, soal daerah rumah Icup. Ntar kami malah gabut di jalan dan trek-trekan sama Ojol dari aplikasi lain. 

2. Kalau pesan Ojol dari Stasiun Buaran, harganya lebih murah ketimbang langsung dari tempat tinggal gue. Selisih sepuluh ribu kan lumayan, buat beli koyo.

Sebagai perantau yang menjunjung tinggi kenyamanan dompet dan saldo rekening, gue akhirnya memilih untuk bercumbu dengan kereta dulu. Kebetulan KMT gue saldonya masih lumayan. Alhamdulillah, menghidari perilaku mubazir. Lagi pula, Icup bilang paling enak ke rumahnya jam sepuluhan aja, mengingat di rumahnya belum beres-beres, masak dan lain-lain. Dan gue naik kereta juga belum sampai menyentuh pukul sembilan. Lumayan, jalan-jalan dulu.

Saat itu, penumpang kereta tidak terlalu ramai. Lumayan, dapat tempat duduk meskipun sebenarnya gue sudah terbiasa untuk berdiri. Berdiri di kereta, lebih keren, menurut gue. Apalagi kita gelantungan pake satu tangan terus muka dibikin kusut dan sok pusing. Ngantuk-ngantuk seolah kita adalah orang penting paling sibuk segerbong kereta. Beuh! 

(Mungkin karena di Kalimantan nggak ada kereta, gue jadi ngerasa kalau ini menyenangkan. Sebenarnya juga karena terlalu sering nonton film Jepang yang banyak pakai latar stasiun, sih.)


Sesampainya di Stasiun Buaran, gue keluar dan kali ini merasa makin asing. Gue suka gitu, sih. Suka ngerasa asik sendiri dan sekaligus sok bingung saat sampai di tempat yang baru. Deg-degan gitu, kalau tersesat.

“Pak, kalo ke arah Kalimalang, Curug, Kapin, itu lewat mana? Saya harus nunggu Ojol dimana?” tanya gue ke salah satu tukang kopi sepeda.

“Ohhh... abang tinggal tunggu di sini, aja. Di sisiku, Bang”

Ada hening sebentar.

“Di order aja, Bang. Bilang aja di seberang Stasiun Buaran, depan Bajaj.”

“Kan, gak ada Bajaj, Pak?”

“Oh iya, ya. Bilang aja bajajnya lagi narik.”

“Oke, oke.”

Jujur gue gak tahu, sepenting apa informasi ‘Bajajnya lagi narik’ buat Driver Ojol.


Akhirnya gue langsung dapat driver yang bersedia mengantar. Gue menunggu sebentar (di sisi) tukang kopi bersepeda sambil membahas tawuran serta pernyataan cinta keponakannya ke anak pejabat. Gue juga nggak ngerti mengapa kami bisa berbicara secara lancar tanpa hambatan. Kayaknya, nyambung aja, gitu.

Setelah Pak Ojol datang, gue pun berpisah dari tukang kopi bersepeda. Wajahnya yang kebapak-bapakan mendadak sangat haru karena mendapati perpisahan ini. Maafkan aku, Pak, semoga ponakannya cepat punya istri~

Amiiinn... (Serius, mohon doanya).


Gue beruntung, karena Driver Ojol yang gue pakai jasanya ini, ternyata tahu tempatnya. “Kapin, ya?”

“Yoi, Pak!” jawab gue, setelah melihat informasi alamat via whatsapp dari Icup. Dan gue akhirnya turun di depan gerbang Jalan Kemang Satu, lalu mengabari Icup kalau gue sudah sampai.

Deg-degan begitu sampai di gapura Kemang Satu

Akhirnya gue diberi petunjuk untuk masuk ke dalam dan mengikuti beberapa arahan melalui whatsapp si Icup. Gue pun melangkahkan kaki. Dan gue disambut di pertigaan gang. Namun bukan Icup yang ada di sana, melainkan seorang gadis mungil berkacamata. Utusannya si Icup, mungkin.

Kami (gue dan gadis mungil berkacamata) menyusuri gang dan nggak lama kemudian, sampai di rumah Icup! Gue lega karena tempatnya nggak jauh dari depan. Ya, walaupun gue udah nggak sebahagia tadi sih, mau ketemu Icup. Habisnya gadis yang menjemput gue ini lebih menarik.

Masuk ke dalam, gue ketemu sama neneknya Icup. Gue bersalaman persis seperti perilaku seorang calon menantu. Lah, emang gue mau kawin ama Icup?! Pokoknya gitu, lah. Gue pun basa-basi sedikit, sambil menunggu respon dari nenek. Mau baca bagaimana cara berkomunikasinya dulu, baru gue siapin jurus buat mengimbanginya. Gue sangat berhati-hati kalau bicara sama orang tua.

“Capek, ya...? Perjalanan jauh, kan?” tanya si nenek.

“Iya, Nek. Jauh. Dari Kalimantan”

“Buset?!”

“Eh, maksudnya, dari Kalimantan, trus stay di Tebet. Nah, ini baru dari Tebet, kok”

“Ooooh” lalu si nenek ketawa. Cara ketawanya membuat gue berkesimpulan, ‘Nah! Bisa cocok nih!’


Akhirnya gue dan nenek banyak ngobrol. Dia juga sampe nanya-nanya soal keseriusan gue terhadap seorang gadis yang gue maksud dipostingan sebelumnya. Agak malu-malu kuda, gue mengutarakan isi hati gue dengan gaya yang biasanya. Serius, tapi santai. Yang penting nenek bisa menangkap apa maksud dari hati gue.

Nah, saat itu si gadis mungil berkacamata tadi membuatkan gue jus alpukat yang terlalu kental. Gue jadi ingat sabun colek, kalau lihat jus ini. Tapi karena jus itu adalah hasil tangan si gadis tadi, jadi gue minum aja sabun coleknya. Maksud gue, jus alpukatnya. Ia juga menyuguhkan segelas air dingin dengan tangannya yang aduhai putih bersih. Gue jadi nggak perduli ini rumah Icup atau bukan. Intinya, gue ketemu cewek cakep!

Si Icup pun keluar, masih pakai sarung yang sama seperti foto-fotonya yang sering dikirim ke whatsapp gue. Mungkin itu sejenis sarung favotinya dengan motif bulu-bulu. Icup terlihat lebih agamis.

Memasuki waktu makan siang, gue diajakin makan sama gadis mungil berkacamata itu. Si nenek masih kenyang, sedangkan Icup mukanya sedang masam. Ogah makan. Katanya enakan nonton tivi. Lagian dia sedang malas ngapa-ngapain karena ngambek. Dia ngambek karena yang datang adalah gue, bukan wanita idamannya. 

Bodo amat, Cup!


Gue pun makan siang bareng si gadis mungil berkacamata itu. Kami menghabiskan makan siang yang berfaedah dengan santapan berupa sup, baso, tempe oreg, ayam goreng dan sambel! Selain kenyang, gue juga bisa jadi lirik-lirik dan bercengkrama dengan dia yang menggugah ketabahan hati tersebut. Kami  di meja makan malah sampai satu jam. Keindahan Tuhan mana lagi yang kau dustakan, Cup?!

Waktu itu juga kita kedatangan keluarga si Icup yang lain. Namanya Sakha, bocah tiga tahun yang langsung salaman sama gue waktu ketemu. Bocah petakilan itu memberikan sebuah pengetahuan kalau makan nasi pakai es krim itu enak! Dia membuktikannya!


Setelah makan siang, ehh... akhirnya Icup kedatangan tamu istimewanya juga! (Iya, bukan gue). Tamunya adalah seorang wanita muda yang masih perawan tulen. Icup pun cengar-cengir, menggoyang-goyangkan sarungnya, seperti kebelet kawin. Karena itu pun, akhirnya dia mau makan. Makannya bareng si wanita itu. 

Waktu terus bergulir. Kami menghabiskan sore dengan banyak menebar cerita dan tawa. Kami berkomunikasi dengan cara yang indah. Gue, si gadis mungil berkacamata dan nenek. Icup mah, masa bodoh. Dia lebih memilih mojok berdua dengan ceweknya, sambil nonton Rumah Uya. Kata Icup, itu acara favoritnya kalau bareng pacar. 

Bodo amat, Cup! Bodo!


Cuaca lagi hujan sih, adem. Dan memang pada saat seperti itu, berada dekat dengan sang pujaan hati benar-benar menghangatkan suasana. Sepeti, kamu tidak ingin ada yang lain, datang mengganggu. Gue jadi makin akrab dengan gadis mungil berkacamata itu. Gue semakin sering menatap matanya dan jatuh ke tempat dimana semua keindahan berada...

Aihhh...

 
Karena hujan yang masih belum menentu, kadang berhenti, terus datang lagi, terus berhenti lagi, makanya gue memutuskan untuk pulang lebih malam, nunggu hujannya benar-benar berhenti. Si Icup sudah mulai capek dengan tivi dan gue lihat dia seperti mencoba menarik perhatian ceweknya dengan pura-pura mati. Mereka pun saling bergerak erotis, saling menunjukkan kemampuan. Tapi tenang, mereka nggak mesum. Mereka tidur di kamar transparan yang terpisah karena belum muhrim. Walaupun kabarnya, mereka akan segera dikawinkan! 

Ahelah... enak banget, Cup!



Malam harinya, jam delapan, setelah makan malam, gue bergegas pulang dan berpamit kepada nenek. Hujan tak lagi menampakkan diri, hanya menyisakan dingin yang romantis. Berdayu mengiringi pandanganku malam itu kepada gadis mungil berkacamata yang ternyata tingginya cuma setenggorokan. Selain lucu, ia juga baik hati karena setiap malam menyisihkan sisa makanan untuk ditaruh di depan pagar, supaya bisa dimakan kucing liar. Ah... kamu memang keibuan!

Gue pun pergi diiringi lambaian selamat jalan oleh gadis mungil berkacamata tersebut. Sampai-sampai, rasanya berat untuk pulang. Gue pun ikut melambaikan tangan sambil jalan mundur. Sekalipun ada kereta di belakang gue, tetep aja nggak bakal gue lewatkan momen saling melambaian tangan ini. Rasanya lebih manis dari jus alpukat pakai susu!


Dan, saat itu juga, Icup pun mendadahi gue dengan ekornya yang bergoyang-goyang.

Eh, gue lupa bilang, ya? Icup itu adalah ikan cupang peliharaan Lulu.


***


Epilog:

Pulangnya, gue naik Ojol lagi, ke Stasiun Buaran.

“Mau kemana, Bang, kok ke stasiun?” tanya driver ojol, di perjalanan.

“Mau balik, ke rumah, Bang. Gak jauh, sih”

“Oh... dari mana emang?”

Kalau gue jawab dari rumah Icup, kan nggak keren. Malam yang dinginnya romantis ini nanti jadi ternoda karena gue ketahuan baru balik dari rumah cowok. 

Akhirnya gue jawab aja, 

“Gue habis dari rumah calon nih, Bang. Dia minta gue untuk kenalan sama keluarganya. Habisnya, gue mau serius sama dia”


Asik!

Si Icup (kiri), sedang 'meleleh' karena tatapan ceweknya.





9 comments:

  1. Bhuahahaha. Ngapa gak sekalian aja tuh tukang kopi sepedah diajak ke rumah icup??! :'D

    Cieilahh, yg ga pulang2, betaaah, dgn alesan krna di luar msh ujaann~ Hahaha. Blg aja krna sajennya banyak. Ye, kan? Wkwk Apalagi jus sabun coleknya. Beehhh, di tukang2 jus blm ada yg jual tuuh :p

    Itu ceweknya icup sbnernya bkan memandang icup, dlm hatinya dia ngliat smbi blg, "ihh, kok kamar dia bagus, sdangkan kamarku sampah?!" :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si icup juga memberi nasehat kali lu ke pasangan "Terkadang tuhan memberikan yang kita butuhkan bukan kita inginkan"

      Delete
    2. Lu, tukang kopi sepeda lagi kejar setoran! Ga boleh ninggalin lapak~ Walaupun sayang dia gak sempat minum jus sabun colek sambil nonton larva!


      Dit, curhat ke wasap aja seperti biasa, gak enak ah di sini~

      Delete
  2. Mau komen tapi udah keduluan Lulu. Gak jadi deh daripada ganggu.

    Wkwkwk

    ReplyDelete
  3. Mau komen tapi udah keduluan lulu sama tiwi. Jadi deh biar pada ganggu.

    Wwkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  4. APAAN NIH? JADI INGET KISAH KOPI!!! 😂😂😂

    Selamat menempuh hidup baru ya, Ziz. Wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. WHAT?! Hahaha.

      Tengkyuh~ Sudah waktunya mengganti kopi dengan jus sabun colek :v

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)