Berjalan dari Dalam Hati

2018/01/08

Tadinya, Hanya Akan Berakhir di Draft





Hingga hari ini, seingatku, baru genap tiga puluh hari aku mengenalmu. Cukup singkat, mengingat kalau semuanya telah terungkap. Bukan rencanaku, apalagi rencanamu. Kita hanya terikat oleh sebuah benang yang tipis, namun sepertinya, cukup kuat untuk menjerat. Lagi pula, aku yakin kamu tidak pernah sekalipun terpikir kalau akan ada seorang pemuda yang berasal jauh dari Kalimantan sana, menuliskan ini.

Keyakinanku amat besar akan hal itu.


Kebun Binatang Ragunan dan para penghuninya, mengejek aku hari itu. Tanpa kamu sadar, mereka menjadi saksi bisu atas lirikan pertamaku padamu. Bahkan sebelum aku mengambil tempat duduk, semeja denganmu, aku sudah memperhatikanmu. Ada daya tarik yang tidak bisa ku jelaskan begitu tahu, ada yang seperti kamu di sana. Sesuatu yang, menarik diriku untuk diam-diam, menaruh pandangan kepadamu.

Saat itu, aku sudah mulai merasa aneh.


Pertemuan kita yang kedua bisa dibilang, awalnya tidak sengaja. Lagi-lagi, hanya seikat benang tipis yang menghubungkan kita. Asal tahu saja, aku tidak akan pergi ke tempat kamu merayakan tahun baru, jika bukan karena tahu kalau kamu ada di sana. Bagimu mungkin biasa saja. Tapi bagiku, terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seorang teman yang sudah mengunggah foto kalian berdua saat itu. Aku jadi tahu, kamu ada di sana.

Diselingi canda tawa mereka-mereka yang sudah akrab sejak lama, aku sebagai pendengar hanya menghabiskan malam pergantian tahun dengan penuh ketenangan. Ada kenyamanan. Ada kamu, yang terpenting. Saat itu aku sudah tidak hanya sekedar ingin melirik, melihat atau memandangimu dengan durasi yang lebih lama. Tanda tanya akan bagaimana caramu menghadapi dunia, mulai meluas di kepala.

Aku, ingin tahu kamu, lebih dari ini.

Belum ada pertemuan ketiga hingga tulisan ini aku buat. Aku menanti hari itu dengan menghabiskan hampir setiap waktu senggang untuk membaca tulisan-tulisan harian di blog pribadimu. Perlahan aku menemukan jawaban, tentang teka-teki, bagaimana sejak awal aku sudah menaruh hati padamu. Ternyata ada misteri yang menyenangkan. Ada senyum hatimu, yang meruntuhkan bentengku.

Kamu, membuatku sadar bahwa mungkin, aku tidak lagi sendiri. Mengetahui apapun tentangmu membuat aku ingin jujur. Membuat aku juga ingin memberitahumu semua tentangku pula. Hingga saat kita kelak berdiskusi dan menemukan kekosongan masing-masing, kita dapat pula, saling mengisi kekosongan itu dengan hal-hal yang kita punya.

Berkatmu, aku kembali menemukan titik tuju. Suatu hal yang ku rasa, seharusnya tidak datang secepat ini. Tidak seperti tiga menit menyeduh mie instan dan langsung bisa dinikmati. Walau jujur, tiga menit pertama aku mengenalmu, aku sudah menaruh hati.

Ku yakinkan hatiku untuk semakin hari, semakin mendalami ada apa di balik layar dirimu. Walaupun belum semuanya, namun aku hampir paham, kamu, sejatinya seperti apa. Selanjutnya, aku akan terus, dan terus mencari tahu. Aku ingin menjadikanmu tempat dimana aku bisa dipercaya, diyakini dan merasa terlindungi. Aku ingin kamu memastikan juga, apakah kamu nyaman dengan benang tipis ini, atau tidak. Mari, aku bantu.

***

Di balik kisah-kisah laluku, terkadang aku sangat sadar tentang siapa aku sekarang. Seumuranku, menemukan yang terbaik sepertinya sudah makin gencar dilakukan. Sudah mulai letih mencari. Inginnya bertahan, lalu berhenti sampai mati. Namun, seorang teman menyadarkanku. Aku tidak boleh berhenti karena sadar ini sudah waktunya untuk berhenti. Tapi, berhenti saat kamu, memang bisa kuajak untuk berhenti. Penjajakan diperlukan katanya, sampai aku bisa benar-benar yakin denganmu.

Aku ingin mencobanya. Tidak. Aku ingin melakukannya. Sebisa mungkin, aku ingin membawamu berhenti bersama. Aku ingin mengajakmu merajut benang tipis itu menjadi sesuatu yang jauh lebih kokoh. Atau, kita pilin saja menjadi sebuah titik. Lalu menyimpannya bersama, hingga menua.

Mungkin, aku hanya sanggup seperti ini. Bagaimanapun kerasnya aku coba menuliskan kata-kata yang indah, tidak akan menandingi keindahanmu yang membuat aku tidak sanggup berkata-kata. Keseriusanku padamu tidak akan tampak dari sekedar jari-jemari yang bercumbu dengan keyboard laptop. Kamu butuh, mengenalku lebih dari ini untuk mengetahuinya.


Memiliki satu titik denganmu, saat ini, adalah yang kuinginkan. Aku ingin menjaga titik itu bersamamu, dan menjadikan putih di sekitarnya sebagai lambang kebahagiaan. Tidak muluk-muluk, aku ingin mengajakmu mencobanya. Keputusanku sampai di sini. Selanjutnya, kamu juga harus tegas, alih-alih mengambil keputusan tentang kita yang menjaga titik ini.

Aku merapikan rencana di sini. Kamu menetap di sana. Aku sudah berterimakasih kepadamu, karena bersedia untuk kukejar. Dan, kamu tidak boleh bergerak. Aku berjanji padamu untuk bergegas ke sana. Sebagaimana inginmu agar aku berlari, lebih kencang dari biasanya. Dan asal tahu, melalui tulisan ini, aku ingin memastikan ketersediaanmu.

Bolehkah, aku menangkapmu?



8 comments:

  1. "Aku sudah berterimakasih kepadamu, karena bersedia untuk kukejar. Dan kamu tak perlu repot-repot berlari ke sana kemari, karena akulah tujuan yang kamu cari."


    Nih, kalimatnya dibikin versi Tiwi dan Ilham.

    Semoga sukses menangkap yang dikejar! Binar mata lo gak bisa bohong wkwkwk. Beda sama efek kopi.

    ReplyDelete
  2. Sudah kuduga :D hhhahahaha
    Hebat kan tebakan gueh

    ReplyDelete
  3. Cangcimen. Cangcimen.

    Kacang kuaci ultra men.

    ReplyDelete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)