Tujuh Kutukan: Chapter 04


(Episode sebelumnya: Chapter 03)

"Terkait kasus kematian Rika, Trio Adam, Dhike dan Didit melakukan penelusuran untuk menemukan keberadaan Diana. Diana masih satu-satunya tersangka yang diburu. Namun, belum sempat sepatah kata pun terucap saat menemukan Diana, ia malah tewas tertembak oleh seorang sniper handal. Adam dan kedua kawannya mencoba mengejar pelaku yang berapa tidak jauh dari lokasi penembakan"



***




"Mustahil.." Didit tersengal. Nafasnya memburu.

"Iya, sih.." Dhike nampak sangat kelelahan.

"Kita ke sininya aja sudah lama.."

Itulah yang Trio Adam, Dhike, Didit, tidak bisa pungkiri. 

Karena kasus penembakan Diana, mereka langsung pergi menuju pusat perbelanjaan, dimana ada seorang yang mencurigakan terlihat di atas bangunan tersebut. Mereka bahkan tidak bisa mendekati mayat Diana karena terancam dapat tertembak pula. Dan tanpa pikir panjang, ketiganya malah berlari ke arah si pelaku berada.

Namun, keramaian membuyarkan harapan mereka. Tidak hanya di sepanjang jalan menuju tempat tersebut. Pusat perbelanjaan itu sendiri juga sedang ramai oleh pengunjung. Sangat tidak mungkin menemukan yang mereka cari.


“Rama, barusan Diana ditembak oleh seorang sniper yang gue rasa udah sangat terlatih. Lokasinya di Jalan Merpati, di samping hulu sungai pertigaan ke arah Mal Baris.”

“Oke! Gue ke sana sekarang. Jangan gegabah. Kalau bisa cari petunjuk dulu”

“Siap!” Adam pun menutup sambungan telepon.


Di lain tempat, Rama pun segera bergegas ke TKP dimana Diana tertembak, bersama beberapa anggota kepolisian.

"Kita tunggu kabar dari Rama aja. Ayok.. kita pulang." Adam memberikan keputusan.

Mereka bertiga akhirnya bergegas ke rumah masing-masing. Adam masih sedikit pusing karena kejadian tidak terduga tadi. Mereka larut dalam lamunan. Dua hari berturut-turut menyaksikan kematian. Dan Adam, cukup tertekan karena itu. Bisa dibilang, ia tahu, saat seseorang akan mati. Dan ia sangat kesal, mengapa harus dirinya yang dapat melihat itu.



Hari Minggu.

Didit mendapati pesan dari Dhike untuk pergi ke salah satu tempat makan di pusat perbelanjaan yang kemarin mereka datangi. Didit segera mandi, menyiapkan motor dan pergi. Masih pukul 10 pagi waktu itu. Niatnya ingin menjemput Adam. Namun saat dihubungi, Adam mempersilahkan Didit untuk berangkat duluan.

Sesampainya di tempat yang dimaksud, ternyata sudah ada Dhike, Rama dan Andari. Ratu tidak hadir karena sedang menemani ibunya berbelanja kebutuhan bulanan, sedangkan Dea ada les Bahasa Inggris.

Topik yang dibahas mereka masih berkaitan dengan kematian Rika dan Diana.

"Kemaren, waktu gue ke lokasi tewasnya Diana...” Rama menelan ludah sedikit. “Mayatnya udah gak ada. Cuma ada darah yang berserakan dan pecahan kepala. Secara utuh, sisanya, hilang dari TKP”

Semua nampak kaget. Terutama Didit dan Dhike. 

"Gak ada keterangan dari orang sekitar?" Tanya Andari.

"Jadi?" Didit memastikan.

Rama, lagi-lagi, menghela nafas panjang dan sedikit mengerutkan dahi. Ia pun mulai mengurutkan rentetan kejadian dua hari terakhir. Berikut beberapa hipotesanya akan kasus ini. 

Hari Jumat, Rika terbunuh di sekolah. Saat ini, cuma Diana satu-satunya tersangka, mengingat keduanya dinilai punya hubungan dekat. Sesil dan Vania tidak masuk hitungan bahkan untuk jadi saksi sekalipun. Mereka berdua adalah bumbu dari alam gaib, menurut Rama. Kebetulan, mungkin, Rika adalah salah satu anak yang berbeda dan dapat berkawan dengan mereka.

Rekaman Diana sedang menelepon seseorang yang dinilai mencurigakan, telah sampai di tangan kepolisian. Saat mereka sedang berupaya menemukan Diana, ternyata malah terjadi hal yang lebih mengenaskan pada Diana. Kematiannya sangat mengerikan mengingat bahwa tragedi itu melibatkan seorang sniper handal dan sepertinya bukan dilakukan secara perorangan, menurut Rama. Ini dapat dibuktikan karena sesaat setelah tertembak, sniper mengalihkan perhatian Adan dan kawan-kawan, lalu mayat Diana dibawa oleh sekelompok orang, yang menurut beberapa saksi, mereka mengenakan pakaian serba hitam, menggunakan mobil honda city 90-an berwarna silver. Sebagian orang memegang senjata api.

Dapat  diduga, para pelaku memang sudah profesional dalam melakukan kejahatan serupa.


Tidak lama, Adam muncul. Ia mengenakan jaket dan menyilangkan tangan di depan dada seperti orang yang kedinginan. Tidak. Ekspresinya lebih seperti orang ketakutan akan sesuatu.

"Lo kenapa?" Tanya Didit. 

Adam menarik nafas sebentar.

"Pertama, kenapa harus ketemu di sini, sih? Jauh tau, dari rumah gue". Ekspresi sedikit cemberut keluar dari wajah Adam.

Teman-temannya tertawa kecil, melihat mimik wajahnya yang menurut mereka saat itu lucu.

"Lagian.." sambung Adam, "Gue jadi nggak nyaman dengan suasana ramai kayak gini".

"Apaan, sih, lo?" Dhike dipenuhi tanda tanya. Begitu pula yang lain.

"Semalam, waktu gue sampe rumah, gue ketemu penjual nasi goreng yang biasa jualan deket rumah. Gue lihat, lagi-lagi, Aura kematian.."

Yang lain semakin fokus dan dipenuhi tanda tanya.

"Gue gak mau mikirin itu terlalu berat. Tapi akhirnya tidur gue malah gak tenang". Adam perlahan melepaskan jaketnya. "Sebelum gue ke sini, tadi, gue dikabarin kalo penjual nasgor itu udah meninggal. Waktu subuh lagi beresin dagangannya, dia ditusuk sama orang yang gak dikenal."

Sontak, teman-teman Adam bergidik ngeri. Mereka tahu Adam tidak mungkin berbohong. Bahkan, mereka semakin ingin tahu tentang ‘kemampuan’ khusus milik Adam tersebut.

"Jadi, lo takut di tempat ramai gini karena..." Didit terdiam.

"Karena ada kemungkinan lo bisa lihat yang kayak gitu lagi?" Rama melanjutkan maksud ucapan Didit.

Adam mengangguk. Ia merasa tidak ingin melihat orang di sekitarnya saat ini. Termasuk, tadinya, teman-temannya sendiri.

Mereka merasa kelainan pada diri Adam, adalah sesuatu yang sangat misterius. Kedepannya, mereka berencana untuk mencari tahu, sedahsyat apa ‘kemampuan’ milik Adam. Apa untuk semua orang yang ia lihat secara langsung? Berapa lama aura kematian akan terlihat sampai orang tersebut mati? Dan bagaimana cara menghilangkan kemampuan tidak wajar itu?

Bagi mereka, ini benar-benar sebuah misteri yang luar biasa.


Setelah banyak perbincangan, termasuk bagaimana nanti mereka akan merekrut anggota baru, akhirnya setelah makan siang, mereka bergegas pulang. Rama dan Andari mampir terlebih dahulu ke kantor polisi, sedangkan Dhike langsung pulang. Didit mengantar Adam sampai di rumah.

"Emm.. jadi, ada yang terlihat?" Sebenarnya, Didit merasa tak harus menanyakannya.

"Ahaha.." Adam tertawa kecut. "Waktu kita lewatin perempatan yang terakhir, gue lihat aura yang sama di orang yang lagi bawa motor matic. Yang di depan kita jalannya"

Didit sedikit merinding. "Tenang, Sob.. gue yakin lo akan terbiasa. Seenggaknya, lo bukan orang yang gampang frustasi kan?”

Adam tersenyum. "Yoi.. gue akan cari tahu lebih lanjut tentang ini. Siapa tahu malah bisa berguna untuk hal-hal baik." Meskipun, Adam sendiri tidak tahu bagaimana caranya.

"Yoiiii. Yaudah, gue balik, ya. Jangan terlalu dipusingin"

"Iya".


***

Menjelang maghrib, Rama menghampiri Andari di ruang tunggu kantor polisi. Ia menjelaskan perkembangan kasus kematian Diana. Mereka mengidentifikasi satu-satunya peluru yang ditemukan di lokasi kejadian. Kurang tiga peluru, dari kesaksian Adam dan Dhike yang katanya ada empat.
Peluru ini berasal dari salah satu jenis senapan terbaik buatan Prancis. Senapan yang daya tembaknya mampu menjebol lapisan baja ini seharusnya tidak dimiliki sembarang orang. Sesuai dugaan Rama, para pelaku memang sudah profesional. Kepolisian akan melakuakn investigasi khusus di pusat perbelanjaan dimana pelaku terlihat.

Terkait dengan Rika, alasan keduanya masuk di SMA yang sama, masih belum diketahui. Mereka berkaitan mengingat keduanya sama-sama tidak memiliki identitas yang jelas. Belum lagi, Soal kematian Sesil dan Vania dua tahun lalu, ternyata tidak murni kecelakaan. Ada unsur kesengajaan seseorang, dan Rika menyaksikan itu. Penyelidikan akan ini telah sangat dalam ditelusuri dua orang detektif polisi.

"Jadi.. bukan tanpa sebab kan, mereka terkumpul dalam satu kisah?” Andari coba meyakinkan Rama.

"Ya.. kematian memang seperi itu. Tak pernah terduga sebab dan waktunya. Hanya saja..." Rama terdiam.

“Hanya saja?"

"Saat ini kita punya seorang teman yang dapat melihat tanda-tandanya. Aku rasa, mulai sekarang, ini gak akan mudah. Adam, dan kita semua tentunya, mungkin akan terlibat hal-hal yang jauh lebih mengerikan dan berbahaya daripada ini."


***
(Bersambung ke Tujuh Kutukan: Chapter 05)
(Rilis: 09 Januari 2018)  

No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)