Berjalan dari Dalam Hati

2018/02/12

Dilannya, Mileaku






 Setiap kita (pria) yang berusaha memikat hati wanita adalah Dilan. Para wanita punya Dilannya masing-masing. Begitupun para pria, punya Mileanya masing-masing.” 
Aziz – 17 tahun (enam tahun lalu).



“Sabtu ini bisa ke rumah nggak? Aku mau kenalin kamu sama Kacicha. Tapi harus siapin mental buat dicengin. Hahaha.”
“Kalau itu termasuk salah satu rintangan yang harus aku lewati biar bisa dapatin kamu, sih, aku siap”
“Hmm, habis itu, malam mingguan bareng, deh”
“Wahaa... Malam mingguan bareng pertama, dong? Cari kerang pedas yang pernah kamu ceritain?”
“Boleh! Tapi adanya di BKT. Apa ke BKT aja, ya? Ah, tapi nanti tambah diejekin Kacicha lagi. Malam mingguan kok ke BKT? Hahaha”
“Lah, memang kenapa?”
“Itu, kan, tempat alay gitu buat anak muda. Haha. Yah, agak norak, lah, kata orang-orang kalau buat pacaran”
“Kamu, kan, bukan pacarku nanti. Tapi pemandu tur”
“Oh iya, ya, kamu kan turis Kalimantan. Hehe. Ya sudah. Sampai ketemu sabtu.”
“Siap.”
-TUUT TUUT-


Siang itu, Dilan yang pada masa SMA pernah malakin adik kelas terus dapat tujuh puluh lima ribu buat traktir teman-temannya makan pecel, sedang sibuk dengan penampilannya. Setelah sekian banyak bulu yang dicukur, tinggal rambutnya yang perlu dirapikan. Ia pun pergi ke tukang pangkas rambut terdekat yang mirip Virgoun waktu masih kurus.

Sesuai permintaan Milea di pesan WhatsApp, Dilan pun mengatakan dengan lantang kepada si tukang cukur mirip Virgoun, “Bang, cukur ganteng!”

“Kaamu... aadaalaah buktii, daari tak bisa digantengin lagii..”

*Skip*

Akhirnya cukur ganteng telah didapatkan Dilan. Ia pun segera kembali ke rumah sambil merokok. Rokoknya dua batang sekaligus. Yang satu adalah rokok kretek, dan satunya lagi rokok mild menthol. Semua preman di gangnya mengagumi kehebatan Dilan itu.

Sesampainya di rumah, Dilan segera mandi. Saking nakalnya, dia cuma mandi tiga gayung. Tanpa sabunan! Lalu ia bergegas memakai baju terbaik yang ia punya. Baju yang sebenarnya sudah pernah ia kenakan ke rumah Milea pada kesempatan sebelumnya. Ini adalah kali kedua Dilan ke rumah Milea setelah dua minggu yang lalu.

Sekali lagi Dilan melihat pantulan dirinya pada cermin. Sebelum pergi, cerminnya ia tinju dulu sampai pecah. Lalu ia pun merapikan bajunya. Menampakkan garis tubuhnya yang macho. Ia pun pergi secepat kilat dari rumah. Namun sekali lagi, saking bandelnya, ia lupa, kalau ia tidak pakai celana.

*Setelah pulang ke rumah lalu secepatnya pasang celana*

“Lia, aku sudah di jalan. Aku pakai Grab, loh. Aku yang bonceng,” ujar Dilan via Telepon WhatsApp.
“Kamu ngambil profesi orang!”
“Kamu juga”
“Ha?”
“Pikiranku. Kamu mengambilnya.”
“Hehe. Yaudah, buru, ke rumah. Aku masih di kantor tapinya. Sampai jumpa di rumah.”
“Eh, tunggu, Lia!”
“Kenapa lagi?”
“Kamu sudah boker?”
“BODOAMAT! Hahaha”
-TUUT TUUT-


Sesampainya di rumah Milea, Dilan membuka pagar setelah mengucapkan salam. Di dalam, lumayan ramai. Ada neneknya Milea tentunya. Ada juga Uwa dan anaknya, lalu ada sosok yang kata Milea akan sibuk cie-cie-in Dilan. Namanya Kacicha. Sebenarnya menurut pohon keluarga, Kacicha ini harusnya dipanggil tante, karena ia adalah istri dari adik ibunya Milea. Namun karena memang orangnya masih muda dan kekinian (antisipasi jikalau ia membaca tulisan ini), jadilah Milea memanggilanya begitu. Kacicha bersama kedua jagoan neonnya yaitu Sakha dan Abil. 

“Haus?” tanya Nenek.
“Belum, Nek” Dilan nyengir.
Nenek diam sebentar.
“Nah, ini sekarang sudah haus”
Ingin rasanya nenek melempar Dilan pakai vas bunga.

Tidak lama kemudian, Milea datang. Dilan dengan sigap membukakan pagar. Saking semangatnya, pagar itu tidak cuma digeser, tapi diangkat sampai copot.

Akhirnya, kerinduan dua minggu tidak bertemu Milea telah terobati. Kini Dilan telah mendapati sosoknya lagi. Sosok perempuan paling nomor satu di hatinya kini. Perempuan yang sangat ingin dia jadikan pendamping hingga kelak jasadnya terbaring di dalam bumi. Gadis idaman yang tanpa sadar telah mampu membuat Dilan terus memperbaiki diri.

“Sudah lama?”
“Belum. Yang lama, menemukanmu. Sudah dua puluh tiga tahun berkelana di dunia, ketemuanya baru dua bulan yang lalu. Hehe.”
“Bisa aja, dasar abang gojek!”
“Grab!”

Kemudian mereka masuk. Di situ, serangan demi serangan dari Kacicha sudah mulai timbul. Belum lagi ada Sakha, bocah lelaki tengil tiga tahun yang rusuhnya minta ampun. Suasana menjadi ramai. Seolah rumah ini baru saja dialiri kebahagiaan yang bertubi-tubi. Dilan sumringah. Keberadaannya diterima dengan baik.

Nenek pun menyuruh Milea untuk membuatkan jus tomat. Mungkin Milea pernah cerita kalau Dilan menyukainya. Milea awalnya ragu karena belum pernah membuatnya. Dilan coba menawarkan diri untuk membantu. (Padahal Dilan juga sama sekali tidak pernah bikin).

 “Ini masukin berapa banyak? Sekilo?” Dilan mengeluarkan satu plastik berisi tomat dari kulkas.
“Buset! Banyak amat! Tiga biji aja.”
“Bijinya?”
“Buahnya! Ku ketok pakai blender juga nih, kepalamu.”
“Wahaha..”

Lalu, blender pun berputar. Eh, bukan blendernya. Giginya itu, loh.

Saat Dilan dan Milea lengah, Sakha pun sempat memasukkan segelas air putih yang sudah diaduk dengan permen milkita.

“Walaaahhh!!! Keenceran!” Milea histeris.
“Yaudah, nggak masalah. Anggap aja ini jus tomat encer pakai susu.” Lalu Dilan menuangkan jus itu ke gelas. Cair. Lebih mirip air putih.
“Kan, cuma milkita. Satu doang lagi.” Milea terlihat berpikir keras.
“Berarti susu sepertiga gelas.”
“Kalau cintamu?”
“Seember! Haha. Pertanyaan bagus. Belajar dari siapa?”
“Ngaca!”

Akhirnya mereka berdua menikmati jus tomat yang ternyata tidak sembarangan rasanya. Jangan menilai dari keenceran dan warna anehnya. Ternyata, rasanya nikmat! Apalagi saat diminum berdua. Berhadapan di meja makan bertabur canda tawa keduanya. Sore itu seperti milik Dilan dan Milea.

Soal bermain dengan anak kecil, Dilan sebenarnya sudah cukup teruji. Apalagi kalau harus menghadapi bocah tengil rusuh seperti Sakha. Maklum, masa kecil Dilan malah jauh lebih bandel. Waktu kecil, Dilan pernah lari keluar rumah tidak pakai celana. Padahal dia belum cebok habis boker. Lalu ia pipisin ikan-ikan got sambil ketawa jahat. Itulah Dilan.

Dilan juga akrab dengan adiknya Sakha yang bernama Abil. Atau Syabil, Abing, atau... ah lupa. Milea sendiri juga lupa nama lengkapnya siapa. Cewek balita ini gemesin. Awalnya pelit sama senyum. Namun karena mungkin aura Dilan sudah kebapak-bapakan, akhirnya Abing mau ketawa juga. Abil. Abila? Ah.. auk dah!

Selepas maghrib, Dilan dan Milea pun untuk pertama kalinya, naik motor bareng. Dilan yang bonceng, dan mereka tidak pakai helm. Milea yang sarankan, sih. Katanya dekat.

“Kamu gak mau nonton Dilan?”
“Hah? Nonton kamu?”
“Maksud aku, film yang lagi hits itu. Yang baru dua hari di bioskop. Dilan 1990”
“Nggak usah, deh. Dilanku, sudah ada di sini. Satu motor bersamaku. Dilan 94. Hehe.”
“Bisa aja nih, Milea 97. Haha.”

Mereka pun tiba di tukang kerang pedas yang ada di pinggir kali. Di BKT. Cuaca malam itu sebenarnya kurang mendukung karena angin sedang luar biasa kencang dan sepertinya akan segera hujan. Milea terlihat kedinginan meskipun mengenakan jaket. Ia memasukkan jari-jari mungilnya ke dalam kantung jaket.

“Berapa?” tanya tukang kerang.
“Satu porsi aja,” jawab Dilan.
“Nggak takut kurang?” tanya Milea, ke Dilan.
“Aku nggak mau. Ini kan, buat kamu”
“Aku nggak bakal habis makan sendirian. Pedas”
“Di situlah peranku, membantumu.”  

Milea tersenyum, sembari membenarkan letak kacamatanya. Dilan menatap dalam pada wanita itu. Bagi Dilan, Milea adalah wadah dimana ia bisa menjadi penghibur, pemimpin dan pelindung. Berada dekat dengan Milea sama nyamannya dengan memiliki seluruh isi dunia.

Usai membeli kerang pedas, mereka melanjutkan wisata malam itu. Perlahan angin sudah semakin kencang, membuat mereka sebenarnya sudah berniat pulang. Namun karena Dilan ingin sekali makan sosis, akhirnya mereka berhenti di salah satu gerobak sosis bakar. Penjualnya adalah seorang abang-abang cungkring.

“Bang, sosisnya dua. Lada hitam, deh” Dilan memesan.
“Oke...” kata Si Abang Sosis, sambil melumuri sosisnya dengan bumbu-bumbu. 

Milea duduk di kursi dekat gerobak sedangkan Dilan berdiri, menikmati proses pengolesan bumbu sosis. Namun belum lagi bara api sempat menyala, tiba-tiba angin menjadi semakin brutal. Pohon-pohon di sekitar yang notabene ukurannya jumbo, mulai bergoyang-goyang dahannya. Daun-daunya pun berguguran ke mana-mana. Suasana menjadi semakin horor karena kaki gerobak si Abang Sosis mulai terangkat-angkat.

 “Waduh!” Si Abang Sosis kaget. Gerobaknya yang minimalis sudah terangkat sedikit. Ia panik. Dilan apalagi. 

Masa gerobaknya harus terbang?! Kan belum sempat nyicip!’

Dilan pun mengambil tindakan. Ia memegangi gerobak sekuat tenaga, sedangkan Si Abang Sosis memasak dengan susah payah pula. Pemandangan yang lucu bagi Milea. Seharusnya malam ini berjalan dengan tenang dan romantis. Ternyata malah jadi seperti acara lawak.

“Kamu jangan senyum-senyum aja. Sini berteduh. Gerimis”
“Eh, iya, iya.”

Milea pun berdiri di hadapan Dilan yang sedang sibuk memegangi gerobak yang benar-benar hampir terbang. Untung Si Abang Sosis sudah hampir menyelesaikan misinya. Tinggal selangkah lagi menambahkan beberapa bumbu untuk menjadikan sosis tersebut siap disantap.

“Siap! Selesai!” Si Abang Sosis sumringah.
“Wah!” Dilan pun merogoh saku dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih sibuk memegangi gerobak. “Ini uangnya, Bang.”
“Makasih, Mas”
 “Oh iya. Tolong ya, Bang,” Dilan menoleh sebentar sebelum ia dan Milea menuju motor.
“Tolong apa, Mas?”
“Jaga gerobak ini. Soalnya bersejarah untukku dan Milea. Abang kalo mau terbang, terbang sendiri aja. Gerobaknya jangan.”
“BODOAMAT!”
“Wahaha”

Milea hanya tersenyum melihat tingkah Dilan. Mereka pun kembali menyusuri jalan ramai BKT di sepanjang kali. Beberapa pedagang terlihat sibuk mengambil ancang-ancang. Gerimis pun semakin meningkat menjadi hujan. Semua nampak sibuk. Namun tidak bagi Dilan dan Milea. Keduanya seperti menikmati malam yang bersahaja tersebut. Sesekali Dilan sengaja menoleh ke belakang agar terlihat lebih jelas, wajah wanita itu. Wajah lucu yang diterpa gerimis. 

Tak terasa, mereka sampai di rumah Milea sebelum jam sembilan. Nenek belum tidur. Lalu mereka makan bertiga. Kebetulan Dilan dan Milea sempat mampir di tukang martabak, mengingat mereka memang pasangan doyan jajan. Makan malam pun menjadi semakin hangat karena lagi, dan lagi, Dilan dan Milea masih sering saling tatap. Memandang jauh ke dalam mata Milea, ada sebuah keajaiban bagi Dilan. Seperti apa yang terbaik untuk hidupmu, ada di situ.

“Yaudah, setengah sepuluh. Aku balik”
“Siip. Haha. Jemputannya mana?”
“Oh iya, sahabat grab, dong.” Lalu Dilan terlihat mulai mengorder.

Abang Grab pun sudah sampai. Tepat di depan pagar. Kalau dalam kesempatan sebelumnya, Dilan jalan kaki dulu ke luar gang, maka kali ini ia dijemput tepat di depan rumah Milea. Jadi tidak sempat ada adegan dadah-dadah romantis seperti pada kesempatan sebelumnya. Milea malu, katanya.

Di perjalanan, Dilan megirim pesan WhatsApp.

“Aku dibonceng”
“Ya memang seharusnya gitu, gimana sih? Hehe”
“Sebagai gantinya, aku mau cerita ke abang grabnya”
“Apa tuh?”
“Malam ini, aku bahagia”
“Waw. Bilangin juga sama abang grabnya”
“Apa tuh?”
“Aku juga”
“Hehe. Yaudah. Kamu istirahat. Tidur. Jangan lupa rindu. Memang berat. Tapi kan kita tanggung bersama”
“Janji?”
“Iya dong. Hahaha”
“Sip. Hehe. Selamat malam Dilanku. Jangan ngutang.”
“Selamat malam. Jangan lupa berdoa, agar diberi kekuatan menghadapi segala cobaan. Rasulullah SAW pernah bersabda...”

*Lah, malah khotbah?*


*Yaudah, bagus juga*

*SELESAI*



Dialami dua hari setelah Film Dilan 1990 tayang di bioskop
Ditulis satu minggu setelah Film Dilan 1990 tayang di bioskop
Diposting delapan belas hari setelah Film Dilan 1990 tayang di bioskop

15 comments:

  1. Kemarinan kalo gak salah bilang Mileanya suka bewok bewok, kok malah bulu-bulunya dicukur sih? Ah!

    KALO LU GANTIIN PIDI BAIQ, GUE BAKAL SUKARELA NONTON DILAN 1990. Tulisannya jauh lebih rapi, daripada yang dipuja-puja itu. Masa.... (terus nanti diserang fanatiknya lagi hhh.)

    2020 lama, nih, ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekedar meluruskan, Milea nya belom siap melihat yg bewok2, katanya mentalnya belum kuat. Tkut hidungnya brdarah. Jd smntara ini, hrs dicukur tiap kali ktmu.
      Muahaha :'D

      Delete
    2. Terjawab sudah kalau pria brewokan bisa bikin Milea mimisan~

      Karena semua punya Dilan dan Mileanya masing-masing, Wi. Gue aja sampai sekarang belum nonton Dilan 1990. Gara-gara Mileaku nggak mau nonton. Haha.

      2020? Sengaja, biar lu duluan, Wi. :v

      Delete
  2. Dilanku, Mileamu~

    Salah, mstinya pas blg ke abang tkang sosisnya bgini, "Bang, boleh ngmng sesuatu gak?"
    "Apatuh?"
    "Gerobaknya saya bawa pulang deh, soalnya gerobak ini sngat brsejarah buat saya"
    *digeplak pake wajan panggangan sosis*

    Hmm. Herannya, knp Milea baru sadar klo itu baju udh 2x dipake pas krmhnya ya? Sprtinya ia brpikir positif, "oh, mgkin bajunya emg banyak yg wrna begitu~"
    :'')))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwuwuw~

      Kalau malam itu Dilan dan Milea bawa pulang gerobaknya, otomatis Milea yang pegangin gerobak. Secara dia dibonceng kan sama Dilan. Dan Dilan yakin Milea gak akan sanggup. Berat~

      Dilan lagi selektif terhadap beberapa pengeluaran yang tidak perlu. jadi ia memilih untuk beli baju tuh, yang bagus tapi murah. Biar uangnya ketabung, trus beli baju pengantin buatnya dan Milea. Huoh!

      Delete
  3. JANTAAAANNNNN !!!

    ingin ku berkata kasar, tapi ini benar benar kasar. Tetaplah kasar wahai kisanak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena, Gung, kita pernah mencoba jadi cowok lembut tapi disia-siakan. #IkrarCowokLembutPatahHatiLaluJadiKasar

      Delete
    2. Dia sedang menjelajah dunia, Wi. Karena sejatinya, setiap batu yang ia temukan memiliki kepingan kunci menuju skripsi. Uwoh!

      Delete
  4. Masih muda dan kekinian.. ehemm ehemmm bisa aja nih pensil anak SD bakakakakkaka baguuusssss ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata apa yang diantisipasi sejak awal, membuahkan hasil. Emaknya Sakha nongol.

      *Kabur

      Delete
  5. Babang aziz.. bisa cariin aing seorang dilan gak ? .. ga perlu cantik yang penting mah rajin sholat dan mengaji .. wkwkwwk :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. ((Dilan)) ((cantik))

      Tar kita survei pangkalan "mereka" di lampu merah, ya :v

      Delete
  6. Faak! Cukur ganteng! Baru kali ini denger istilah cukur ganteng! Biasanya kalau gue ke tempat cukur rambut bilangnya: potong model lee min hoo.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cukur ganteng ya biar bikin ganteng. Atau untuk ukuran orang kayak gue... sama aja dengan Cukur maksa. Maksa ganteng ._.

      Delete

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)