Berjalan dari Dalam Hati

2018/06/04

Kehidupanku Pada Babak Dua - Kekalahan



Kehidupanku Pada Babak Dua - Kekalahan


Sejak kecil, gue memang cukup payah. Banyak hal yang melatar belakanginya. Salah satunya, bawaan dari keluarga sendiri. Gue besar dan bertumbuh di dalam sebuah keluarga kecil yang tidak lengkap sejak awal. Tidak pernah punya orang yang dipanggil “Ayah” di rumah. Dan semenjak ibu gue tidak pernah bernafas lagi sejak 7 september 2004 (gue menuliskannya Di Sini), gue besar dengan cinta kasih seorang nenek.


Punya latar belakang yang tidak seperti kebanyakan teman, seringkali membuat gue kalah sebelum melangkah. Teman-teman pada punya mainan baru, gue belum. Semua selalu ditemani orangtua saat mengambil rapot, gue sendirian. Yang lain punya jatah uang jajan yang pasti perbulannya, gue kadang tidak membawa bekal apa-apa ke sekolah.

Namun, berbagai kekalahan itu sengaja gue kubur sedalam-dalamnya semenjak SMP. Gue mulai menunjukkan setidaknya ada sisi dimana gue boleh berbangga diri. Gue ikutan ekskul basket, bikin band, nongkrong dengan siapa saja termasuk geng-geng nggak jelas, telah gue lakukan. Hingga akhirnya gue bisa menjadi orang yang cukup diperhitungkan. Gue pernah ngerjain soal matematika pakai rumus sendiri, Gue pernah melatih basket, selama SMA dua tahun berturut-turut jadi ketua kelas, jadi ketua OSIS (walaupun masa jabatannya tidak normal), bahkan gue pernah mendapat nilai ujian kimia tertinggi seangkatan. Semua gue lakukan semata-mata untuk menutupi semua kelemahan.

Dan sejak memasuki fase remaja, gue semakin tidak ingin kalah.


Melanjutkan kisah pada babaksebelumnya, gue sampai di Jakarta pertama kali pada 30 Oktober 2013. Singkatnya, hampir dua minggu pertama gue menumpang di kosan Rio. Selama dua minggu itu gue habiskan dengan berkeliling menikmati Jakarta, kopdar dengan beberapa sahabat yang selama ini hanya gue sapa di dunia maya, dan tidak lupa tentunya mencari kerja.

Cari kerja di Jakarta susah? Tergantung, sih. Untuk seorang lulusan SMA yang baru pertama kali hidup di Ibukota seperti gue memang cukup pelik. Gue hampir gagal di semua tempat yang gue inginkan hingga akhirnya terselamatkan oleh seorang kawan yang gue kenal lewat Google Plus sejak dulu masih di Kalimantan. Tantowi namanya. Ia membawa gue ke sebuah tempat dimana ia bekerja paruh waktu di sana. Sebuah stasuin tivi ternama yang selama ini hanya gue tahu dari jauh. RCTI oke. Gue pernah menuliskan salah satu kisahnya Di Sini.

Gue sebenernya tidak ingin membuat sebuah daftar riwayat kerja, tapi ya, ini bagian dari hidup gue. Dan salah satu bagian pentingnya adalah saat gue pernah menjadi bagian dari Indo Hits Record, bertempat di Gedung Annex lantai 4 RCTI. Sebuah pekerjaan yang menurut gue gaul abis. Sangat mustahil untuk mendapatkan pekerjaan ini jika gue masih terkekang di kampung halaman. Mentok-mentok, di sana gue hanya akan menjadi seorang tenaga honor di instalasi pemerintahan.

Selama bekerja untuk memproduksi reality show di sana, hampir setiap hari gue bertemu dengan JKT48, idol group yang pada masa itu sedang viral luar biasa dengan kapasitas fans yang sungguh besar. Gue, sebenarnya juga salah satu yang mengidolakan mereka kala itu. Influencer-nya tidak lain tidak bukan adalah Abek semenjak kami kelas tiga SMA. Cuma ya, gue berusaha profesional meski kadang gue suka pamer ke teman-teman di Kalimantan. Yaa, ada sedikit kebanggaan saat itu. Di antara sekian juta fans mereka yang berebut untuk nonton dan bayar, gue malah bisa ketemu hampir setiap hari tanpa perlu mengantri dan tentunya gratis.

Setelah punya sebuah pekerjaan, gue akhirnya punya kosan sendiri, di kawasan Senayan kala itu. Di kantong cukup mencekik karena terletak di sebuah komplek perumahan elit. Sebenarnya gue sudah punya ancang-ancang untuk pindah ke daerah Kebon Jeruk namun saat itu takdir berkata lain. Di saat sedang maraknya mempersiapkan konser ulang tahun JKT48 yang kedua di Bandung, gue punya sedikit problem di kantor. Kesalahan kecil yang tetap saja sebuah kesalahan.

Waktu itu gue masih 19 tahun, berpikiran pendek dan entah karena hilang arah atau apapun itu, akhirnya gue malah resign dari sana. Lebih tepatnya resign lewat handphone. Padahal, kalau saat itu pola pikir gue sudah matang dan dewasa, masalah itu seharusnya bisa selesai dan gue yakin, pekerjaan gue akan sangat bagus hingga saat ini.

Namun itulah tadi, takdir berkata lain. Gue kembali dihadapkan kepada sebuah masalah yaitu pekerjaan. Namun syukur, saat itu tidak sampai satu minggu menganggur, gue kembali mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan Pialang di kawasan Sudirman. Daerah yang penuh dengan orang-orang kantoran berkualitas menurut gue.

Pindah kerja, pindah dunia. Jauh. Jika sebelumnya gue dihadapkan dengan sebuah dunia hiburan yang nyentrik dan penuh tawa, di Pialang gue hampir selalu serius dan harus punya pola pikir seperti orang-orang dari kalangan pengusaha kelas atas. Tidak merugikan, sih. Banyak sekali hal-hal baru yang gue dapatkan di sana. Bahkan gue sempat punya pacar (sekarang sudah jadi teman biasa) dan seorang sahabat yang masih sangat akrab sampai sekarang. Terima kasih Sudirman, salah satu perusahaan besar di dalammu telah membuatku menjadi lebih dewasa kala itu. Dari segi penampilan dan pola pikir, gue cukup meningkat.

Selama bekerja di Pialang, nasib gue tidak selalu bagus. Parahnya, gue malah masih sering minta uang kiriman dari kampung halaman. Pekerjaan ini benar-benar membutuhkan faktor selain usaha. Yaitu, keberuntungan. Dan gue sama sekali tidak memilikinya kala itu. Masa-masa itu juga makin berat karena pacar gue mengalami nasib yang sama dan hampir setiap hari hanya kita habiskan dengan mengeluh dan mengeluh. Sebagian teman gue pun sudah mulai resign satu persatu. Sebenarnya mungkin bukan karena sistemnya yang salah. Mungkin kami saja yang memang sudah terlalu lelah.

Kala itu gue sebenarnya sudah dibantu dengan tempat tinggal gratis di kawasan Srengseng. Gue mulai kehidupan baru bersama teman-teman gue di dalam satu rumah mewah yang cukup besar. Yah, seperti asrama gitu, lah. Banyak pengalaman seru di sana terutama saat kita harus bergadang memantau harga market sambil main kartu domino, atau sekedar bertukar cerita sebelum beranjak tidur. Sangat menyenangkan dan gue menyimpannya sebagai salah satu kenangan yang indah.

Namun lagi-lagi, semakin lama gue bertahan di sana, semakin gue mengalami kesulitan terutama jika dikerucutkan pada soal keuangan. Gue belum punya penghasilan yang memadai namun tidak mungkin terus-terusan minta uang kiriman dari Kalimantan. Sampai akhirnya, mei 2014 gue kembali dihadapkan pada sebuah pilihan yang berat. Ramadhan sudah makin dekat dan gue seperti punya benturan antara menjalaninya di Jakarta atau pulang kampung. 

Pekerjaan gue saat itu sedang memasuki tahap yang tidak terlalu bagus hingga gue terlalu lelah untuk memenuhi beberapa target perusahaan. Belum lagi Nenek dan om gue silih berganti menghubungi agar gue pulang. Mereka tahu, gue belum siap di Jakarta. Buktinya, masih selalu minta uang jajan. Gue pun ingin beristirahat. Dan setelah banyaknya benturan pikiran, dengan berat hati, gue meninggalkan Jakarta, untuk pertama kalinya. Meninggalkan sahabat dan semua orang baik lainnya.

Harus diakui, saat itu, Jakarta terlalu tangguh Buat gue.


Wajib Baca:
Kehidupanku Pada Babak Tiga – Kebanggaan (Soon)
Kehidupanku Pada Babak Empat – Pengharapan (Soon)



No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)