Berjalan dari Dalam Hati

2018/06/04

Kehidupanku Pada Babak Satu – Penasaran



Kehidupanku Pada Babak Satu – Penasaran

Tulisan ini gue ketik di malam ke-19 Ramadhan 1439 H. Tepatnya malam senin, tanggal 3 juni 2018, hari Minggu. Tiga belas hari sebelum ulang tahun gue yang ke dua puluh empat. Posisi gue sedang duduk di sebuah kursi dengan earphone pada telinga. Terdengar lagu Lisa – Crossing Field sebagai pembuka playlist lagu-lagu yang akan menemani gue menulis. Mendengarkan lagu favorit (gue suka J-Pop) saat menulis, memang sebuah kebiasaan yang amat sering gue lakukan. Ya, iya, lah. Kalau yang belum pernah gue lakukan tuh, nikah. Yahaa. Mudah-mudahan tahun depan dapat terlaksana.

*Elus-elus dada*


Sebelumnya, setelah maghrib, gue melihat upload video terbaru Raditya Dika di Youtube. Dia sedang menyayembarakan Giveaway sebuah laptop keren dari Asus. Dan syaratnya lumayan gampang. Mungkin terlalu gampang menurut gue karena tidak punya syarat tetek bengek seperti Giveaway kebanyakan. Tunggu, bukannya ini malah akan jadi menyusahkan? Karena kita tahu fans Raditya Dika itu militan. Siapa lah gue yang hanya merupakan satu dari hampir empat juta subscriber channel youtube-nya dan satu dari sembilan juta followers instagram-nya. Btw, followers twitter-nya ternyata sudah lebih dari enam belas juta. Tapi nggak apa. Gue iseng coba.

Syarat yang diajukan yaitu hanya menuliskan pada kolom komentar vidionya berupa Nama, Email dan Alasan kenapa ingin memiliki laptop tersebut. Nantinya Bang Radit akan memilih secara acak berdasarkan alasan-alasan yang sudah dikemukakan. FYI, laptopnya cuma satu dan yang komentar sudah ribuan. Susah kan? Nggak apa, karena menurut gue ada poin penting di baliknya. Ini tidak sebatas membuat gue berharap terhadap laptop itu. Namun membuat gue sadar, tentang pentingnya sebuah “Alasan”.

Gue tulis di bagian Alasan, bahwa sebagai fans Raditya Dika garis keras sejak 2011, gue selalu ingin mengikuti jejaknya. Gue selalu ingin punya karya-karya sepertinya. Dan di akhir kalimat gue tulis, gue butuh laptop itu untuk menyaingi dia! Maklum, spek notebook gue sekarang hanya mampu untuk mengetik dan nonton donlotan Boruto seminggu sekali. Selebihnya dapat dipastikan notebook ini tidak akan sanggup.

Alasan tersebut memang gue tulis tidak sembarangan. Namun tidak lucu dan tidak bijak pula. Sangat biasa menurut gue. Tapi, setelah itu gue tersadar kalau keberadaan gue di sini (Jakarta) sekarang, tidaklah lepas dari sebuah alasan. Hal yang sangat mendasari kenapa gue bisa “Nyasar” berada di Ibukota tanpa satu pun sanak saudara.


Sedikit kilas balik, gue ingin menceritakan sebuah kisah dimana semua bermula. Dari sebuah kota kelahiran di sudut timur Kalimantan. Dimulai dari seorang teman sekelas yang jadi sahabat baik juga sampai sekarang, bernama Abek. Kalau tidak salah waktu itu di penghujung akhir kelas dua SMA. Gue lupa punya masalah apa (sepertinya sih berhubungan dengan perempuan) dan sedang galau berat ingin mencari hiburan.

Waktu itu, Abek adalah seorang yang lumayan aktif di sosial media populer, Facebook. Kala itu Twitter juga baru tenar-tenarnya kalau tidak salah. Nah, ternyata si Abek ini juga sudah punya blog. Sering kali ia memberikan link postingannya ke gue dan menyuruh untuk membaca. Ia mencoba untuk menawarkan sebuah obat pereda gundah.

Setiap membaca tulisannya gue selalu geleng-geleng kepala sendiri sambil sesekali tertawa. Aneh aja, gitu, karena isi tulisan Abek kebanyakan adalah aibnya sendiri. Namun gaya komedinya yang menurut gue sekilas seperti gaya Alitt Susanto, membuat gue cukup terhibur. Ada keinginan untuk melakukan hal yang sama kala itu.

Kemudian, benar, berawal dari gue yang suka baca blognya, malah lama-lama jadi ikutan bikin. Sebelum blog yang sekarang, gue pernah buat dua blog dan dihapus karena gue belum menemukan apa yang akan gue lakukan terhadapnya. Asal tahu, dunia tulis-menulis sangat asing buat gue saat itu. Gue sama sekali tidak punya rasa atau formula untuk merangkai berbagai kata menjadi sebuah kalimat yang menarik. Yah, sekarang sih masih begini-begini aja.


Lulus SMA, gue pun mengikuti saran keluarga untuk lanjut ke salah satu Universitas ternama di Kalimantan Timur. Dukungan dan harapan dari balik layar, mendorong gue untuk menyetujui dan merantau ke luar kota demi menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Membawa pengharapan yang besar dari orang-orang yang menyayangi gue.

Saat itu jualah gue mulai menyukai berbagai karya Raditya Dika, Bena Kribo dan Alitt Susanto. Gue selalu menunggu update-an blog dan kegiatan-kegiatan mereka. Sebagai fans garis keras seorang Raditya Dika, gue mengikuti hampir semua karyanya mulai dari buku, film dan stand up comedy-nya. Hingga bermunculan webseries di awal-awal keaktifannya di Youtube. Sungguh, saat itu gue merasa seperti punya panutan super. Gue pun perlahan aktif menulis di blog dan mendapat banyak teman baru karenanya. Gue seketika berubah menjadi seorang mahasiswa baru yang bercita-cita jadi seorang penulis muda.

Tidak disangka, sebuah perubahan besar pertama kalinya terjadi pada hidup gue yang datar ini. Kuliah gue berantakan dan gue sukses dicap sebagai mahasiswa yang tidak jelas kemahasiswaannya. Yah, pokoknya begitulah. Sampai akhirnya gue lelah dan memutuskan untuk menjauh dari perkuliahan lalu memulai kerja sampingan. Dari sampingan, jadi ketagihan. Sampai akhirnya gue memutuskan untuk benar-benar berhenti kuliah.

Banyak pikiran-pikiran positif dan negatif yang menghantui gue saat itu. Di satu sisi, gue sangat menyesal karena sudah mengecewakan keluarga. Di sisi lain, gue ingin merasakan bagaimana hidup di atas sebuah jalan yang kita pilih sendiri. Sampai akhirnya perdebatan di hati ini memenangkan sebuah kesimpulan bahwa, “Gue ingin pindah”. Gue ingin menemukan apa yang sebenarnya ingin gue lakukan. Sebatas inikah hidup gue yang singkat ini? Tidak. Gue sudah punya keputusan. Pertama kalinya dalam hidup, gue harus memutuskan sesuatu seberat ini. Sebuah keputusan yang beralaskan rasa penasaran akan kehidupan di Jakarta. Penasaran akan rintangan dalam menggapai impian. Penasaran bagaimana rasanya jadi orang multi-karya seperti Raditya Dika.


Pindah kemana? Tentu saja, tidak terpikir kota lain saat itu selain kota metropolitan dimana banyak orang terkenal dengan karyanya di sana. Dimana lagi kalau bukan Jakarta. Kota sejuta lampu, menurut gue. Dan kalian tahu kan, simbol ide atau pemikiran seseorang biasanya dikiaskan oleh gambar lampu? Itulah hal pertama yang gue pahami dari Jakarta. Di baliknya, gue ingin sekali mengadu nasib membawa sebuah hobi yang saat itu sedang gue tekuni. Menulis.

Gue coba yakinkan keluarga sendiri tentang keputusan besar ini. Suasana haru jelas tidak terelakkan. Gue ingat telah membuat Nenek, satu-satunya orangtua gue, menangis kala itu. Sebagian besar om dan tante gue juga seperti pasrah-pasrah saja. Walaupun gue tahu, di mata mereka gue sama sekali belum dewasa. Namun gue semakin meyakinkan keputusan ini sampai akhirnya diizinkan.

Berbekal uang jual motor Satria FU 2011 (kalau nggak salah, waktu itu laku terjual 7 juta), gue mulai mempersiapkan diri untuk mengarungi Jakarta, sendiri! Ya, sebenarnya nggak benar-benar sendiri sih. Gue punya seorang teman zaman SMP yang sedang kuliah di Trisakti kala itu. Ada juga beberapa sahabat seperti Tiwi, Ucup, Lukman yang gue kenal melalui sebuah forum Blogger. Gue juga cukup sering berinteraksi dengan Kevin Anggara dan beberapa penulis baru saat itu. Dan mereka ada di Jakarta. Semakin meyakinkan gue untuk harus ke sana!


Kilauan lampu-lampu Jakarta sudah gue saksikan dari dalam pesawat, sesaat sebelum mendarat. Gue terkagum dengan indahnya langit malam kala itu. Berpadu dengan bias titik-titik cahaya di daratan sana. Gue nggak pernah lupa bagaimana rasanya. Gue semakin tidak sabar ingin meluapkan kebahagiaan karena akhirnya gue bisa menghirup udara di tempat yang selama ini hanya bisa gue lihat dari layar tivi dan laptop. Sampai kini pun rasa itu masih membekas.

30 Oktober 2013 adalah kali pertama gue menapakkan kaki di Ibukota tercinta, DKI Jakarta. Gue sampai sekitar pukul setengah delapan malam, turun dari pesawat Lion Air di Cengkareng (berdasarkan survey, Lion Air merupakan maskapai dengan harga tiket termurah saat itu). Suasana ibukota sudah sangat terasa. Gue pernah menuliskan kisahnya di blog ini. Setelah gue melewati pintu kedatangan terminal satu, gue menghubungi Rio (teman zaman SMP gue tadi) dan ternyata dia sudah menunggu. Dia menjemput dan membawa gue ke sebuah kost dimana ia kurang lebih satu tahun terakhir telah bersemayam di sana.

Di perjalanan menuju kosannya, dari dalam taksi, gue lihat lagi sekeliling. Gue seperti enggan beranjak dari samping jendela kala itu. Kekaguman demi kekaguman lagi-lagi menyibukkan perasaan gue. Membuat sebuah gejolak besar di hati, menyadari bahwa akhirnya tiba juga saat yang dinanti. Mata gue melirik ke arah luar jendela mobil dan memperhatikan setiap keramaian yang ada di luar sana. Indah, mengagumkan.

Akhirnya, semua rasa penasaran gue beberapa tahun terakhir telah mendapati pelabuhannya. Dari penasarannya gue akan blog, penasaran ingin menulis, penasaran ingin memiliki banyak karya seperti Raditya Dika, hingga penasaran terhadap kota sejuta lampu yang kita sebut Jakarta. Berbekal penasaran itu pula, gue memberanikan diri untuk berbelok, mengganti haluan akan jalan yang sebelumnya begitu mudah diprediksi rintangannya. Dihiasi perjalanan dengan ongkos taksi argo tujuh puluh lima ribu rupiah, akhirnya, semua terluapkan.



Wajib Baca:
Kehidupanku Pada Babak Tiga – Kebanggaan (Soon)
Kehidupanku Pada Babak Empat – Pengharapan (Soon)



2 comments:

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)