IMPIAN, KEUANGAN DAN PERNIKAHAN

SUMBER GAMBAR: https://www.ciptaloka.com/find-kaos+2019+ganti+presiden



Di tengah banyaknya cobaan hidup, lagi-lagi gue harus bertahan demi sebuah pencapaian. Selain gue harus makin ekstra mengelola bisnis orang, mungkin sudah saatnya untuk membangun bisnis sendiri secara perlahan. Paling tidak, sekecil apapun bisnisnya, itu milik kita, kan. Sudah sering dengar lah ya, kalimat-kalimat motivasi demikian.


Awal tahun 2018 kemarin menjadi sejarah kenapa gue sampai ingin menjadi seperti sekarang. Berkecimpung di dunia yang semula tabu di hati, tapi nyatanya ada di sekitar gue setiap hari. Setelah sebelumnya di awal tahun hanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih Guesthouse, sekarang gue ada di balik layar manajemennya. Banyak hal-hal baru yang gue pelajari terkait “Berbisnis”.

Beberapa bulan berkutat dengan “Laporan Keuangan” membuat gue cukup terbiasa melihat angka-angka. Ada yang menarik di sana. Ingin gue jabarkan tapi takut nanti malah mengubah makna yang ingin disampaikan. Intinya, gue suka lah, ya. Semacam benih-benih cinta gitu, loh.

Menyerempet ke banyak hal yang berkaitan, gue jadi suka akuntansi, jadi suka baca-baca tulisan perihal dunia bisnis dan kelanjutan kasus Ibu Ratna. Perlahan ada ketamakan baru bahwa gue ingin terjun di dalamnya juga. Bukan join di Tim Kampanye tertentu atau apa, ya.

Halah, ngawur.

*

Selama ini, banyak cita-cita yang terpikirkan. Dari waktu SD gue pengin jadi Polisi, trus SMP jadi atlet basket sampai SMA gue pengin jadi anak band dan penulis. Setelah itu gue pengin jadi sutradara, penulis skenario sampai akhirnya perantauan menuntun untuk menemukan passion gue sebenarnya. Terjun ke dalam dunia bisnis sekalipun tanpa modal uang. Yang gue persiapkan saat ini adalah modal keinginan dan pelajaran berharga dari berbagai hal yang sudah terjadi belakangan. Dan gue rasa, ini bisa jadi salah satu pondasi untuk cita-cita gue yang seabreg tadi.

Rezeki bisa datang dalam bentuk yang bermacam. Tidak hanya sekarang menjadi bagian dari Manajemen Keuangan Guesthouse, gue juga dapat rezeki lain berupa calon istri. Di balik keceriaan, tentu terdapat banyak hal yang cukup membuat dahi berkerut tidak karuan.

Pernikahan.

Nah, nyerempet jauh nih.

Wkwk.


Sebagian besar umat manusia berpendapat bahwa pernikahan adalah akhir indah dari perjuangan mempertahankan hubungan. Dan juga, awal baru dari kehidupan berumah tangga yang akan datang. Sakral, kata orang-orang. Soal pernikahan sendiri pernah gue singgung di beberapa postingan sebelum ini.

Gue sih selalu setuju dengan pernyataan bahwa resepsi pernikahan bukan segalanya. Cukup realistis mengingat tantangan sebenarnya bukan di persiapan resepsinya, namun apa yang akan membekali kita setelahnya. Hanya saja sejak dahulu (gue lupa kapan), gue menganggap hari pernikahan tidak sekedar menjabat tangan penghulu, mengucapkan “Kalimat Pamungkas” lalu para saksi berteriak “SAH”. Gue ingin pernikahan satu kali seumur hidup. Dan gue tidak ingin melewatkan kenangannya meskipun diambil dengan cara yang sederhana. Ada keinginan lebih untuk membuat hari pernikahan menjadi berkesan paling tidak untuk kepuasan.

Ada ego, untuk membuat banyak kebanggaan.

Dan gue perlu cukup uang.

*

Sebelum gue kembali ke Jakarta akhir 2017 kemarin, ada target yang selalu gue gaungkan dan tertanam. Yaitu ingin bersungguh dalam impian hingga kalau datang saat yang tepat untuk meminang, gue sudah siap secara mental dan keuangan. Sebut saja, target tahun 2020 gue sudah menikah. Padahal kala itu calonnya saja masih tidak tahu ada di mana. Wkwk.

Kembali ke rezeki dapat pacar yang gue singgung di atas, akhirnya sampai hari ini, kurang lebih Sembilan bulan gue menjalani hubungan dengan pacar gue sekarang. Lalu entah dari mana, sebuah arus besar datang menerpa komitmen yang tadinya menikah tahun 2020, menjadi 2019. NGEBET, PAK?!

Sekali lagi gue perjelas, kami sendiri lupa mengapa bisa memutuskan untuk membangun komitmen menikah di tahun 2019. Apa ada hubungannya dengan Pilpres? Tidak ada yang tahu. Yang jelas, kami jadi punya target tersendiri yang kalau dihitung-hitung sejak hari ini, kurang lebih enam bulan lagi!

Namun dengan target yang demikin dekat, sampai hari ini kami baik-baik saja. Saking baik-baik saja, kemungkinan kami untuk berantem hampir bisa dibilang nol persen. Damai?

MASALAHNYA DI SITU, PAK!

Oke, ini soal lain. Tapi akan berhubungan nanti di akhir tulisan. Sabar, Bang.


Gue akui, pacar gue sekarang adalah sosok yang penuh kelembutan dan toleransi. Pengertian dan perhatian luar biasa. Tidak pernah rasanya kami beradu argumen dengan mengencangkan urat. Semua berjalan semulus pantat bayi. Dan, di balik hubungan yang datar ini, tentu ada sedikit kebingungan. Hampir setiap saat kita menjalani hari dengan “Template” yang sama. Sedangkan jujur saja, gue cukup terbiasa dengan perempuan yang punya ego tinggi. Perempuan yang mau beradu argumen, berdiskusi bahkan sampai berantem lalu ditutup dengan saling memaafkan kemudian makin cinta seperti di drama-drama asia.

Namun, bukan hak gue untuk mengubah personanya yang terlalu “Kawaii” menurut gue. Gue suka semua yang ada padanya sekarang. Hanya saja, gue butuh sedikit kesibukan baru dari datarnya kami menjalani hubungan.

Maka dari itu, setelah digabungkan antara mencari kesibukan, hobi dalam keuangan dan tentunya dalam rangka menambah biaya untuk katering pernikahan, gue putuskan untuk menggeluti hal yang bisa gue lakukan sekarang.

DAGANG.

Berawal dari ajakan teman untuk mencoba, akhirnya gue yakin untuk berjualan. Masih seputaran pakaian. Hingga belakangan, gue makin banyak belajar dan memacu keinginan. Perlahan tapi pasti, sembari berjualan, ada tujuan di baliknya yang ingin gue lakukan.

Membuat sebuah perusahaan.

Mimpi di siang bolong, mungkin. Bagaimana seseorang yang tidak perlu diperhitungkan seperti gue bisa punya cita-cita mendirikan perusahaan sendiri? Namun semakin lama, gue malah semakin yakin. Tidak seperti beberapa hal sebelumnya yang kebanyakan gue sadari sebagai hobi. Sekarang, yang gue lakukan adalah lebih dari itu. Ini sebenarnya adalah suatu perwujudan dari apa yang gue inginkan secara garis besar. Atas beberapa aspek, akhirnya gue putuskan untuk memulai dan gue sudah jatuh cinta akan ini.
Tidak lagi hanya mengurus bisnis dan keuangan orang lain, gue dari nol, saat ini juga mengurus bisnis dan menyusun Laporan Keuangan gue sendiri. Hingga kelak, perusahaan ini akan menjadi besar.

Perusahaan apa? Pabrik baju?

LEBIH DARI ITU.

Setiap perkembangannya akan gue tulis lah ya, setelah ini. Anggap saja gue dapat endorse dari perusahaan sendiri. Kalau teman-teman gue kebanyakan job promosi dari perusahaan besar, gue promosiin usaha kecil-kecilan saja.

Tapi punya sendiri.

Wkwk.

Yah mungkin sekian. Untuk nama usaha, latar belakang, visi-misi serta target-target beberapa tahun ke depan sudah gue siapkan. Semoga setelah berkembang cukup lumayan, bisa pula gue bagikan dalam bentuk iklan. Dan tentu saja sampai saat itu datang, gue masih harus mengumpulkan biaya pernikahan!


No comments:

Post a Comment

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)