Wabah Kejenuhan




Tulisan ini diketik saat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) DKI Jakarta sudah memasuki hari ke-empat, dalam menyikapi pandemic covid-19 yang kalau tidak salah terakhir gue lihat jumlah kasus nasional positif sudah lebih dari tiga ribu dimana angka kematian mencapai sepuluh persennya. Sadis, sih. Kita bisa untuk tidak panik hanya karena angka atau karena bawaan lingkungan. Tapi percayalah ini penting untuk kita saling mengingatkan terutama sadar pada diri sendiri bahwa kita bisa saja terkena dan masuk dalam salah satu hitungan kematian. Mau? Gue sih ogah.

Di samping orang-orang yang memang wajib untuk masih keluar dan berkegiatan di luar rumah, ada baiknya sebagian lain yang memang tidak punya tanggung jawab untuk keluar rumah, ya di rumah saja. Berdiam diri mengurangi rantai penyebaran virus. Gue sih setuju karena ini masuk akal sekali. Gak perlu lah gue berusaha meyakinkan karena pakai logika saja itu sudah benar kok.

Gue sendiri adalah orang yang bisa dibilang 50 berbanding 50 dalam hal ini. Gue punya pekerjaan yang biasanya di luar rumah, tapi ketika menuliskan ini, gue bisa dibilang masih punya waktu untuk mengerjakan beberapa hal dari rumah. Total sejak PSBB diberlakukan sih gue full empat hari tidak kemana-mana. Sebelumnya juga pernah. Anggap lah dari lebih satu bulan terakhir, gue dua puluh hari ‘Di rumah aja’.

Masalahnya, gue pria 25 tahun yang lajang dan ngekost. Ukuran kamar tidak terlalu besar tapi lumayan punya kamar mandi di dalam kamar sendiri. Gue sih bersyukur setidaknya masih ada pekerjaan yang bisa diselesaikan dari rumah, lalu tidak banyak punya kegiatan lain juga. Tidak ada kendaraan pribadi untuk kemana-mana juga. Hanya saja, setelah 20 hari (walaupun tidak berturut-turut), jenuhnya sudah pasti ada juga. Apalagi empat hari terakhir gue benar-benar gak keluar kamar. Bahan makanan untuk masak seadanya sudah ada di kosan karenanya gue gak terlalu perlu untuk keluar lagi buat cari makan. Yaa karena tengah bulan ini uang juga sudah lebih dari kata menipis sih.
Kejenuhan-kejenuhan lain mulai muncul ketika gue mulai iseng main-main medsos. Lah kenapa jenuh? Itu kan jendela dunia di zaman ini yang luar biasa.

Justru itu!

Gue lihat kegiatan orang-orang selama Social Distancing kemudian PSBB kayaknya masih bisa dijalankan dengan baik karena posisi hidup sudah stabil. Mereka bisa eksplor hobi, bikin kreasi, main dengan keluarga dan lain sebagainya. Gue tidak menganggap sedih sendirian karena yakin ada orang-orang kayak gue dengan banyak masalah di rumahnya masing-masing yang buat diri mereka gak betah kalau harus di rumah aja. Hanya mungkin gue bicara mewakili salah satu dari mereka. Yang sepertinya kurang puas kalau harus di rumah aja. Gue bicara sebagai orang yang membayangkan punya ruang lain selain kamar tidur dan kamar mandi. Yang punya dapur, punya ruang depan/teras untuk sekedar main gitar dan merekamnya untuk iseng membagikan ke media sosial demi sebuah kepuasan batin.

‘Di kosan aja’ menurut gue pribadi sangat tidak nyaman. Saat ini. Saat gue hanya punya internet tanpa perangkat lain untuk membunuh kegabutan. Anggaplah sebenarnya gue punya ide-ide kreatif untuk menghilangkan kegabutan hingga menjadi sebuah karya yang paling tidak membahagiakan diri sendiri. Tapi gue terbatas. Di kamar kotak kecil ini gue mulai mengimajinasikan ide-ide liar tapi terpendam. Gimana sih lu udah punya pemikiran sesuatu, bersemangat untuk membuat hasilnya tapi malah gak bisa karena lu gak punya apa-apa. Perangkat pendukung gak ada dan gue bingung ini ide mau dibawa kemana hingga akhirnya rebahan lagi main medsos. Liat orang-orang bikin sesuatu di rumah, kesel lagi. Serba salah.

By the way gue punya pacar yang juga sudah lebih dari dua minggu ‘work from home’. Dia awalnya bingung karena kerja di luar rumah selama ini membuat dia agak sedikit malas berada di rumah. Akhirnya dia coba masak, merawat tanaman dan sekarang lagi suka edit-edit gambar buat konten fashion kerjaannya. Hobi baru buat dia, kegiatan menarik dan setidaknya dia bisa betah walaupun di rumah aja.

Nah gue kebalikannya sekarang. Kalau dia baru ketemu jati dirinya dengan segala hobi itu, gue yang udah punya passion sendiri untuk berkreasi malah lumpuh. Ngerasanya sih gitu. Gue gak bisa masak-masak yang gimana-gimana karena gak punya kulkas dan cuma punya rice cooker. Nyiksa sih. Skip untuk masak. Tanaman? Lingkungan kosan tidak memenuhi syarat. Skip juga.

Kalau ngomongin kreativitas di medsos, gue juga akhir-akhir ini merasa tidak bisa 100% berekspresi karena untuk share apa-apa sudah tidak semelegakan dulu. Ada beberapa faktor sosial dan sekitar yang gue masih mikir-mikir mau share sesuatu yang gue suka. Itu cukup menganggu mental karena dasarnya gue cuma pengen orang tau apa yang gue lagi suka. Iya gak sih? Kadang beberapa orang suka gitu. Saat mereka hanya ingin orang di luar sana tahu mereka seperti apa walaupun sebenarnya tidak butuh tanggapan atau respon apa-apa. Dan ketika ada hal yang membuat dia tidak melakukan itu, ada yang mengganjal. Oke skip lagi.

Membuat hal-hal menarik seperti editing foto, nulis blog, bikin video dan sebagainya juga tidak bisa gue lakukan karena tidak didukung perangkatnya. Ibarat gini, gue kayak orang goa yang kebetulan punya internet aja. Medsos ramai, tapi gue sepi. Gue tidak bisa ikut ‘memeriahkan’ wfh dengan apapun yang gue punya sekarang.

Terakhir, menurut gue virus ini tidak akan pernah musnah dari muka bumi. Hanya gue menunggu saat dimana virus ini jadi selevel sama pilek yang obatnya dijual eceran di warung-warung terdekat.


Salam,

Dari gue yang sudah mentok bingung mau ngapain.

Wabah Kejenuhan Wabah Kejenuhan Reviewed by Aziz Ramlie Adam on April 13, 2020 Rating: 5

No comments

Eiits... jangan buru-buru exit dulu. Sebagai Pria Cakep Biasa, gue punya banyak cerita lain. Baca-baca yang lain juga ya... Terima kasih :)

Featured Posts

[Blogger][feat1]